iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Bahtonang dan Tanah Lapang yang Hilang

Bahtonang dan Tanah Lapang yang Hilang
Foto: Koleksi Pribadi Lusius Sinurat
Tahun 1990-an di desa asalku, Bahtonang masih ada dua lapangan yang cukup luas.

Yang satu namanya "Tanoh Lapang GKPS" dan satu lagi "Tano Lapang Katolik". Tanoh (Simalungun) atau Tano (Toba) punya arti yang sama yakni tanah.

(1) Tanoh Lapang GKPS

Saat aku masih SD, lapangan yang terletak di samping kanan dan belakang gereja GKPS Resort Bahtonang. Itu sebabnya lapangan ini disebut Tanoh Lapang GKPS

Namun sejak saya SMP hingga setelah lulus dan meninggalkan Bahtonang, lapangan itu semakin mengecil. Bahkan itu terjadi dalam waktu yang cepat.

Awalnya hanya rumah untuk pendeta GKPS yang dibangun di sisi kanan gereja. Tapi lama kelamaan, lapangan pun mulai ditutupi oleh pemukiman penduduk, bahkan 10 tahun terakhir lapangan sudah lenyap oleh bangunan Wisma dan rumah permanen lainnya.

Maka Tanah Lapang GKPS yang dulu sering digunakan sebagai landasan helikopter pejabat yang datang, kini hanya tinggal kenangan.

(2) Tanah Lapang Katolik

Lapangan yang satu ada disamping Gereja Katolik St. Petrus Bahtonang, persis di pinghir jalan raya. Dibelakang lapangan ini juga kirkoff atau taman pemakaman Katolik.

Tentu saja lapangan ini adalah lahan kuburan yang belum penuh oleh makam. Artinya makin lama lapangan ini akan semakin sempit.

Benar saja, saat aku msh SD hinhga SMP di twhun 90-an "Tanah Lapang Katolik" ini masih bisa kami pake sebagai lapangan sepakbola. Tapi ketika saya mudik bulan Februari lalu, lapangan itu cuma cukup untuk main Volley ball.

****
Bahtonang dan Tanah Lapang yang Hilang
Foto: Koleksi Pribadi Lusius Sinurat

Inilah yang ingin kusampaikan. Ketika Ahok setengah mati membangun ruang publik terpadu ditengah padatnya bangunan di Jakarta, justru di desa-desa ruang publik dimusnahkan.

Anda tahu akibatnya?

Di jaman masih SD hingga SMP, aku punya teman yang sangat banyak. Tak hanya sesama anak-anak, tapi juga orang tua teman-temanku itu. Bahkan sebagian besar nama mereka masih jelas kuingat.

Dimana kami saling kenal? Ya, saat main bola di Tanoh Lapang GKPS dan di Tano Lapang Katolik. Tahu dimana aku kenal orang tua dari teman-teman tadi? Di dua tanah lapang itu juga. Paling sering orang tua mereka datang ke tanah lapang untuk memanggil pulang anaknya, yang tak lain adalah teman-temanku tadi.

Begitulah kedua lapangan ini menjadi tempat pertemuan dua dusun bertetangga: Bahtonang I (Simalungun) dan Bahtonang II (Toba).

Bahkan tak jarang juga anak-anak dari kampung sebelah, seperti Bandar Hanopan (Kab. Sergai yang mayoritas dihuni orang Toba), atau dari Sorba Bandar dan Kampung Rawang yang dihuni orang Jawa dan Simalungun.

Di Tanoh Lapang GKPS dan Tano Lapang Katolik itu pulalah kami biasa bertemu dan bermain bola atau olahraga lain.

Di kedua lapangan ini pulalah anak-anak, remaja hingga orang tua daro Simalungun (GKPS, Katolik), Toba (Katolik, HKBP) dan Jawa (Islam) bersatu dalam kegembiraan saat pertandingan olahraga.

Apa yang terjadi sekarang?

Di Tano Lapang Katolik masih tersisa satu lapangan volley, dan sesekali anak-anak SMP dan SMA masih bermain futsal di lapangan yang sama. Sebaliknya, Tanoh Lapang GKPS justru sudah tinggal kenangan. Bahkan selebar jalan tikus pun sudah tak ada di sana.

Akibat paling fatal dari hilangnya ruang publik ini adalah pergeseran pola interakso sosial masyarakat Bahtonang, terutama kaum mudanya. Kalau dulu kaum bapa masih olahraga sepulang dari sawah, kini mereka justru lebih cepat ke Lapo Tuak.

Demikian juga dengan remaka dan kawula mudanya. Dulu saban sore kami selalu kumpul dan bermain bola, kini generasi masa depan ini justru lebih bangga punya teman di fesbuk daripada punya pacar yang ketemu saat kumpul di salah satu dari dua lapangan tadi.

Haruskah hal-hal seperti ini sampai ke telinga bupati atau gubernur? Ah, rasanya cukup dibahas di balai Desa Bahtonang aja deh. Kasian kali kampung awak! Haha


Lusius Sinurat

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.