Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Saling Menyalahkan Demi Mengaburkan Masalah

Saling Menyalahkan Demi Mengaburkan Masalah Salah satu trik mengaburkan tindak kejahatan sekelas korupsi dari para anggota sebuah institusi adalah dengan cara saling menjelekkan antar satu dengan yang lain.

Bila akhrinya ia terbukti bersalah, maka dengan mudah ia akan membela diri dengan mengatkan, "Aku melakukan korupsi karena yang lain juga melakukan korupsi. Aku cuma ikut-ikutan!"

Saat Marzuki Ali dikatakan terlibat kasus korupsi e-KTP, ia menyangkal bahwa ada sesama eks anggota Komisi II yang tak suka ke dia dan mencatut namanya.
Ketika seorang teman mantan imam kutanya mengapa ia tega meninggalkan imamat-nya sembari membawa segepok uang gereja sebagai modalnya setelah menikah lalu kini berganti identitas demi menikah dengan dua wanita sekaligus?

Ia menjawab enteng, "Kalau mau jujur, bukan hanya aku. Bahkan masih banyak imam yang kini masih aktif justru sudah punya istri simpanan dan usaha gelap untuk membiayai anak haramnya."

Membenarkan diri dan mencari kambing hitam nyatanya bukan saja menyelamatkan si pelaku kejahatan sendiri. Tetapi serentak meng-kambing-hitamkan orang lain adalah salah satu cara menutupi kejahatan kolektif. Ya, oleh mereka yang sebetulnya sama-sama melakukannya.

Trik ini nyatanya berhasil di Indonesia.
Kasus Century hanyalah salah satunya. Mereka yang sempat disebut terlibat (tapi konon katanya tak terbukti) bahkan masih ongkang-ongkang kaki sebagai pejabat.

Semua pelaku utamanya, yakni para pejabat pengambil kebijakan justru bebas berkeliaran tanpa rasa bersalah. Kasus Hambalang pun sama. Ketika sebagian para pelaku ditangkap dan dipenjara, para pelaku utama justru mereka lindungi atas nama korps.

Itu baru di politik, karena ternyata di lembaga-lembaga rohani pun sama saja. Kyai yang korup dilindungi santrinya; Pendeta yang korup dilindungi oleh aturan perpuluhan di gerejenya; Biksu terlindungi karena besaran derma tak perlu dilaporkan; Pedande pun terhindar dari kaus uang karena mereka adalah penghubung dunia dan nirwana; dan Romo berlindung dibalik selibat mereka.

Lagi, bila para politisi / pejabat publik mengkorup uang negara, maka para pemimpin agama justru mengkorup uang derma yang oleh banyak umatnya dianggap sebagai persembahan kepada Tuhan.

Singkatnya, bila pejabat publik mengkorup uang dunia, maka para pemimpin agama itu justru mengkorup uang surga.

Terkait hal ini, teman yang duduk di sebelah kri saya lantas berceloteh spontan, "Enggak juga, bang. Soalnya, hari ini justru bisnis paling prospek itu justru bisnis agama." #AdaAdaSaja #SaiNaAdongDo


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter