Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Tuhan Dalam Sungut-sungut

Tuhan Dalam Sungut-sungut
Foto: Internet
"Lalap berdoa. Berdoa. Berdoa. Berdoa terus. Macam udah baik kali Tuhan itu sama kau. Cok kau lihat, udah hebat kali raupanya hidup orang yang rajin berdoa itu?

Sudahlah, kawan. Orang terkaya di negara ini pun para koruptor nya. Kau lihat sendiri nya di tivi-tivi itu. bagaimana mereka dipaksa pake baju orange seharga 1 milyar itu.

Eh, tapi kuperhatikan para penjahat uang negara itu kebanyakan orang yang rajin shoat dan rajin beribadah setiap hari minggu. Belum lagi kek yang pernah kawan bilang. Mereka juga donatur besarnya nya untuk pembangungan rumah-rumah ibadah.

Bah, marsamburetan kuliat orang beragama ini. Itulah, kawan. Makanya kau hentikan saja yang ke gereja itu. Lagipula macam kuliat kau jadi orang kudus. Makan di restoran padang itu pun kau selalu berdoanya. Macam pamer kuliat kau..."

Nasihat panjang lebar ini sering terdengan di kode kopi dan lapo-lapo tuak di desa kami. Tapi juga mungkin peristiwa yang mirip-mirip kayak ginian ada juga di tempat Anda. Hehehe.

*****

Iman selalu bisa berbanding lurus dengan kebutuhan sehari-hari (ekonomi). Artinya orang yang merasa hidupnya sudah cukup tak pernah bermasalah dengan imannya kepada Tuhan.

Tentu saja kata "cukup" di sini bukan dalam kategori kaya atau miskin. Kata cukup di sini ada di tingkat kesadaran bahwa kebutuhan pangan, sandang dan papan sudah terpenuhi.

Mereka tak pusing dengan status kepemilikan atau tingkah kemewahan rumah, model pakaian atau jenis makanan yang mereka telan.

Tipe ini adalah tipe orang yang bersyukur.

Tetapi juga sering juga terjadi bahwa iman berbanding terbalik dengan kebutuhan sehari-hari. Faktanya banyak orang juga yang selalu merasa kurang, hidupnya susah dan bebannya berat. Tentu orang yang hidup dalam kegalauan ini tak pernah menikmati apa pun yang ia miliki.

Jadi bisa saja ia kaya tapi selalu merasa miskin. Bisa juga ia selalu merasa miskin karena ia membandingkan kekayaannya dengan
kekayaan Raja Salman dari Arab.

Tipe ini adalah tipe penuntut, tak tahu bersyukur. Mereka ini kerjanya bersungut-sungut terus, mulai dari meyalahkan Tuhan dan para pejabat agama.

*****

Dalam era kekinian, mayoritas penduduk bumi lebih memilih tipe kedua. Kita selalu merasa lapar setelah kenyang makan dan selalu merasa haus ketika kita baru saja meneguk 3 gelas minuman.

"Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?" sungut-sungut bangsa Israel karena merasa keausan di padang gurun. (Kel 17:3)

Sangat jelas, bawah bangsa Israel mau menyerang dan menyalahkan Tuhan, "Engkau yang membawa kami keluar dari perbudakan di Mesir, tetapi Engkau pula yang membuat kami kehausan di tengah gurun ini."

Peristiwa itu terjadi di Masa dan Meriba, satu tempat dimana orang Israel bertengkar dan mencobai TUHAN dengan mengatakan: "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?" (Kel 17:7)

****

Adakah TUHAN di tengah-tengah kita ketika kita haus dan lapar? Ya, ada. Tapi dia bukan babumu yang sedia mengambil makanan dan minuman itu dari dapur atau membelikannya ke warung lalu menyuapimu,

TUHAN ada karena kita ada. Kata orang muda kekinian, "ada itu sama dengan eksis." Kalau saja orang muda bisa eksis di media sosial, mengapa ia tak bisa eksis mengupayakan makanan dan minuman sendiri ?

Ah, keterlaluan banget lu kalo hanya nunggu Tuhan yang ngambil dan nyuapin mulut lu.

***
Ya, beginillah cara kita beriman di jaman ini. Di satu sisi kita mengklaim diri paling ber-Tuhan, tetapi di sisi lain kita selalu bersungut-sungut kayak setan kelaparan.

Padahal orang yang beriman kepada Allah semestinya bersyukur sembari yakin bahwa Allah tak akan membiarkannya lapar. Yang penting kerja yang benar dengan cara yang halal aja udah cukup.

Maka, sejalan dengan perkataan Yesus, orang yang hidup dan bekerja seturut kehendak Allah tak mungkin sampai mati kelaparan.

Ini nyata, bahkan sangat nyata. Tak peduli apa pun profesi dan pekerjaan Anda. Orang nemu dompet dan balikin aja bisa dapat upah, apalagi kalau pejabat yang bekerja melayani rakyat dengan jujur, tulus dan tak korupsi masak sih enggak bisa makan?

Perkataan Yesus ini, "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya" (Yoh 4:34) pada akhirnya membuatnya tak takut kelaparan dan kehausan. Enggak ada tuh ceritanya Yesus kelamaan berkotbah sampe kelaparan. hahahaha...

Akhirnya, orang yang bersungut-sungut itu adalah orang yang menyembah tuhan yang ia taruh di otaknya, dan bukan Tuhan yang kehadiranNya ia rasakan di hatinya.

Mereka yang menaruh Tuhan di otaknya tak lain adalah mereka yang hanya menjalankan agama berdasarkan kewajiban dan aturannya hingga tak sempat merasakan kehadiran Tuhan "hic et nunc" di sekitarnya.

Mungkin kita semua harus menghayati ajakan Yesus kepada janda Samaria dalam Injil Yohanes 4:21 befikut ini, "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.

Artinya, Tuhan tak pernah terikat oleh ruang dan waktu. KehadiranNya bukan berdasarkan jadwal kita. Kehadiran Tuhan justru nyata ketika kita mengimani bahwa IA SELALU ADA.

Selamat merayakan Hari Minggu Prapaskah III. Happy Sunday.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter