iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Tuhan Dalam Sungut-sungut Kita

Tuhan Dalam Sungut-sungut Kita
Foto: Internet

"Lalap berdoa. Berdoa lalap. Berdoa melulu! Cok kau lihat, udah hebat kali rupanya hidup orang yang rajin berdoa itu?" tanya Goklas membuka percakapan dengan Gokhon. "Sudahlah, kawan.

Para koruptor itu justru kebanyakan orang yang rajin sholat atau aktif di gereja, minimal sebagai penyandang dana untuk agama mereka," lanjut Goklas.Sudah marsamburetan (kacau) umat beragama ini. Makanya kau hentikan saja yang ke gereja itu. Macam orang kudus kau kulihat," tutup Goklas yang ditanggapi dengan cuek oleh Gokhon.

Percakapan di atas sering terdengar dalam obrolan bapa-bapa di lapo. Intinya, banyak orang sering yang mengaitkan iman dengan statuts ekonomi. Sebut saja anggapan bahwa orang kaya tak mungkin bermasalah dengan imannya. Di sisi lain, banyak juga orang yang beranggapan bahwa iman berbanding terbalik dengan kebutuhan sehari-hari. Maka orang yang hidupnya susah tak akan pernah menikmati apa pun yang ia miliki.

Konsekuensinya, bisa saja seseorang kaya tapi ia selalu merasa miskin, karena ia tak berhenti membandingkan kekayaannya dengankekayaan para emir UEA. Jenis orang ini menganut tipe penuntut, tak tahu bersyukur. Kerjanya bersungut-sungut melulu: meyalahkan Tuhan dan para pejabat, bahkan menyalahkan ajaran agama.

Dalam era kekinian, mayoritas orang lebih sering merasa lapar setelah kenyang dan selalu merasa haus setelah mabuk. "Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?" kata orang-orang Israel bersungut-sungut dalam perjalanan di padang gurun menuju tana terjanji." (Kel 17:3) Orang-orang Israel menyerang dan menyalahkan Tuhan, "Engkau yang membawa kami keluar dari perbudakan di Mesir, tetapi Engkau pula yang membuat kami kehausan di tengah gurun ini." Lebih parah lagi mereka mengeluh kepada Musa, "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?" (Kel 17:7) TUHAN ada karena kita ada. Artinya, eksistensi Tuhan tergantung pada eksistensiku. Itu artinya, Tuhan ingin kita eksis di mana saja, termasuk di media sosial.

Di setiap jaman selalu ada kekhasannya. Di jaman ini orang-orang mengklaim diri paling ber-Tuhan, tetapi serentak ia selalu bersungut-sungut kayak setan kelaparan saat Tuhan tak menurutui hasratnya. Sejalan dengan perkataan Yesus, orang yang hidup dan bekerja seturut kehendak Allah tak mungkin sampai mati kelaparan. Artinya, kehadiran Tuhan harus disikapi dengan rasa syukur, karena Ia mustahil ingkar janji. Tugas kita adalah melakukan kehendakNya.

Perkataan Yesus ini, "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya" (Yoh 4:34) mestinya menyadarkan kita bahwa kita tidak perlu takut kelaparan dan kehausan. Itu sebabnya para pastor, pendeta, ustadz dan sejenisnya tak perlu takut kelaparan setelah berkotbah sampe bibir dower...hahaha...

Hanya mereka yang bersungut-sungut adalah orang yang menyembah Tuhan yang ia taruh di otaknya, dan bukan Tuhan yang kehadiranNya ia rasakan. Artinya, mereka hanya menjalankan ajaran agama mereka hanya berdasarkan kewajiban dan aturan.

Akibatnya kita sering tidak merasakan kehadiran Tuhan "hic et nunc" (kini dan saat ini). Kata Yesus kepada janda Samaria, "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem." (Yoh 4:21) Intinya, Tuhan tak pernah terikat oleh ruang dan waktu. KehadiranNya bukan berdasarkan jadwal kita. Kehadiran Tuhan itu sangat nyata, terutama setiap kita bersyukur atas KEHADIRAN "DIA YANG SELALU ADA".

Selamat pagi menjelang siang.

Lusius Sinurat

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.