Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Kunci Itu Ternyata Bukan Milikku

ahok, anies
Foto: Internet
Anies cemberut dengan muka kusut ketika "hunting" ke Balaikota Pemprov DKI dengan helikopternya.

Entah apa yang ada di pikirannya. Padahal dia datang dengan perasaan cinta berbunga-bunga. Tentu, karena ia dan si Uno baru saja diumumkan KPUD DKI sebagai pemenang Pilkada.

Lantas banyak orang menafsir mengapa gerangan wajah Anies begitu kecut? Apakah karena teriakan seorang nenek Jawa di Balaikota, "Pak Ahok, musuhmu wis teko" itu?

Entahlah.
Yang jelas sorot kamera para pencari berita memang begitu tajam, bahkan menyilaukan obyeknya. Maka tampillah apa yang Anies katakan, berikut cara Anies mengatakannya.

Tak jarang poin kedua ini malah yang lebih diminati wartawan dan netizen kita.

Toh ini politik; dan politik adalah hermeneutik. Lihatlah para politisi kita yang memasang muka manis disaat kata-kata yang keluar dari mulutnya justru bau amis. Entah apa sebutan untuk si politisi bermuka dua ini: anomali atau paradoks?

Itu enggak terlalu penting, pada akhirnya. Sebab, sebagai pendukung presiden/gubernur yang "gila" saya justru sangat bangga melihat gesture-nya pak Ahok. Ahok tetaplah Ahok. Dia tak tampil beda walau kalah jadi gubernur oleh segala bentuk serangan dengan digit-digit cantik ini: 411, 212, 313, 414 dst.

Kekaguman saya semakin bertambah melihat rekamana pertemuan perdana sang gubernur petahana dan gubernur terpilih ini. Saya melihat pertemuan ini sebagai pertemuan antara "orang yang apa adanya" dan "orang yang ada apanya".

Maka tak mengherankan ketika sang tamu yang per Oktober 2017 yang akan datang menjadi tuan rumah merasa kecewa. Bagaimana tidak. Anies yang datang berharap mendapat keistimewaan memegang KUNCI utama kotak pandora APBD untuk ia otak-atik, justru pulang dengan tangan kosong.

Ternyata, kunci yang akan ia pegang nanti tak cukup untuk membuka kotak pandora tadi, sebab ia harus "minta restu" terlebih dahulu" dari BPK dan KPK yang juga punya kuncinya.

"Busyet dah ini Ahok. Ia mengunci peluang mengotak-atik APBD. Udah gitu pake bikin pasword dari 3 lembaga segala lagi. Aduh, gimana sih Ahok ini. Ntar mau danain 515, 616, 717, 818, 919, dst pake apa dong. Mana 411, 212, 313 belum pada impas," kata beberapa netizen di akun fesbuk dan twitter mereka.

Ahok...Ahok.
pantesan aja lu dibombardir agar masuk penjara.
Taunya...eh ada yang ketahuan deh....
wkwkwkwk..


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter