Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Melayat Mayat Menghilangkan Penat

Melayat Mayat Menghilangkan Penat
Ilustrasi: wikiHow
Betapa pentingnya pembelajaran, entah pembelajaran secara formal maupun secara informal. Sebab tingkat kemampuan berpikir seseorang turut memengaruhi caranya bertutur, bergaul, pun berdiskusi.

Di titik inilah ilmu pengetahuan menjadi pembeda antar jaman yang satu dengan jaman yang lain.

Misalnya, beberapa waktu lalu ada seorang ibu yang ngotot mengatakan bahwa saya tak berperikemanusiaan ketika saya katakan begini,

"Kita sering sibuk memberi perhatian ketika orang mati, namun sepanjang hidup, kita bahkan sering abai memberinya perhatian. Lebih tragis lagi, di sepanjang hidupnya kita justru sering menganggap almarhum(ah) tadi sebagai orang yang pernah menyakiti hati kita."

Orang-orang tadi berpendapat ada yang salah dengan pernyataan saya di atas. Menurut mereka, justru momentum terakhir untuk menuntaskan segala masalah di atas adalah pada saat orang itu meninggal, "Ya, minimal kita bisa bertemu untuk terakhir kali dengan dia dan mengutarakan apa yang telah terjadi antari kita dengan dia."

Biasanya mereka mengacu pada "fakta" bawha "kemahsyuran dianggap itu terlihat dari banyaknya orang yang datang melayatnya saat meninggal."

Bisa jadi hal ini benar. Minimal, pemakaman para (mantan) presiden, para pemimpin agama berkharisma, atau siapapun yang dipandang punya jasa kepada masyarakat sekitarnya biasanya memang dihadiri banyak orang. 

Masyarakat Batak, misalnya, sangat mengamini anggapan ini. Maka tak mengherankan bila seonggok jenazah akan ditunda penguburannya hingga berhari-hari demi menanti salah satu anggota keluargnya yang belum datang dari negeri jauh.

Tak peduli apakah orang yang ditunggu tadi mencintai atau malah benci terhadapa orang itu yang meninggal itu. Sebab, penting bagi masyarakat Batak, yang juga diamini oleh banyak etnis lain untuk memperlakukan kematian sebagai "titik terakhir perjumpaan" alias perpisahan antara orang hidup (keluarga dan orang dekatnya) dan orang mati,

Oleh karena kematian tadi merupakan momentum perjumpaan terakhir, maka momentum tersebut harus dijadikan sebagai ekspresi cinta dan kepedulian orang-orang terdekat kepada si jasad. Tak jarang juga prosesi pemakaman sebagai saat terakhir bagi orang yang masih hidup untuk "mengakukan dosa" dan mohon pengampunan atas tindakannya yang salah kepada jiwa orang mati tadi.

Anehnya lagi, orang Batak, juga Tionghoa jauh lebih mencintai leluhurnya yang telah meninggal dibanding keluarganya yang lain yang masih hidup. Lihatlah TPU orang Tionghoa atau kuburan dan tugu yang menjulang ke angkasa di Samosir milik orang Batak.

Sebab, bagi etnis tertentu memperlakukan orang mati secara layak adalah gerbang untuk menghantar jiwa si orang meninggal tadi ke surga/nirwana. Selain itu didalamnya juga termaktub kepentingan orang hidup, antara lain agar mereka tidak diganggu oleh roh orang meninggal tadi. 

Hingga kini pandangan ini masih dibenarkan. Bila dulu hal itu terkait dengan rendahnya kemampuan berpikir masyarakat saat itu, maka kini hal itu dipandang sebagai tradisi yang mesti dipelihara. Nyatanya, pemikiran mistik semacam ini masih subur. 

Jangankan tentang kematian, orang sakit orang sial, bahkan orang kecelakaan sekalipun masih kerap kita yakini terkait dengan tindakan begu (roh yang telah meinggal) dari orang tua atau leluhur yang telah meninggal. Selain itu, penderitaan tadi juga sering dipandang sebagai akibat dari rasa tak hormatnya kepada leluhur; dan untuk itu perlu dilakukan ritus tertentu untuk menyembuhkannya.

Pola pikir dan tindakan seperti ini biasanya subur ditengah masyarakat agraris yang tinggal dan bertumbuh di lingkungan yang sempit dan dengan tingkat pendidikan formalnya sangat rendah.

Di bidang politik saat ini, mereka kita sebut sebagai kelompok "bumi datar", yakni gerombolan manusia yang melihat, mamahami serta mengklaim kebenaran secara ekslusif, tepatnya sebagai miliknya atau milik kelopmpoknya.

Mereka inilah yang biasanya dijadikan korban oleh orang-orang berpendidikan tinggi dan punya kepentingan tertentu. Salah satu yang mereka lakukan adalah dengan memfasilitasi sekte/kelompok atau geng mereka dan selanjutnya mencuci otak mereka dengan berbagai doktrin "kebenaran" tadi.

Karena keterbatasan pengetahuannya mereka akan akan mudah sensitif dan beringas saat kebenaran versi mereka diusik; dan dengan gampang mereka akan merasa tersinggung bila diusik tingkah lakunya.

Pemikiran mistik memang tak selalu bisa sejalan dengan pemikiran logis, walaupun keduanya mestinya selaras dan tak berseberangan. Sebab, bagi saya pribadi, seseorang yang semakin cerdas secara otomatis akan lebih beriman kepada Tuhan. Sebab, orang yang cerdas akan selalu merasa bodoh dan perlu menggantungkan hidupnya pada misteri yang tak dipahaminya.
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter