Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Jangan Takut Menonton FILM & Membaca BUKU Sejarah

 Jangan Takut Menonton FILM dam Membaca BUKU Sejarah
Presiden Jokowi saat menonton film G30S/PKI
(1) Film

Film tetaplah film. Film tak pernah sungguh menghadirkan adegan-adegan nyata yang dipanggungkannya, kecuali film dokumenter yang tampil lebih nyata.

Tapi di masa kecil, khususnya ketika masih SD di kampung Bah Tonang saya selalu memahami film sebagai realitas, kenyataan yang sebenarnya.

Teringatlah saya dengan film Serial Friday the 13th yang begitu mencekam setiap malam Jumat, C.H.I.P’S, TJ Hooker, Hunter, dan berbagai film lain yang hanya disisarkan oleh TVRI, tak terkecuali film G30S/PKI yang wajib kami tonton setiap tanggal 30 September.

Sekali lagi, saya selau memahi film adalah kenyataan, dan kenyataan itu adalah film. Apalagi saat menonton serial "Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) yang dibintangi Novia Kolopaking, HIM Damsyik, Gusti Randa, etc.

Namun bersamaan dengan bertambahnya usia dan pengetahuan, saya di penghujung SD saya baru tahu kalau film itu bagian dari seni peran dan film tak pernah mewakili kejadian yang sebenarnya.


(2) Buku

Waktu masih kelas 2-3 SD tahun 80-an, kami diwajibkan membeli buku komik ekslusif tentang yang isinya tentang sejarah perjuangan melawan agresi Belanda di Jogjakarta Mendikbud.

"Merebut Kota Perjuangan" adalah buku sejarah itu. Supersemar adalah bungkus dari buku itu, dan Soeharto adalah sesuatu yang dibungkus di dalamnya.

Saya senang membaca buku itu. Tentu saja, sebagai anak-anak, saya suka buku komik bergambar dan berwarna cerah. Hingga SD kelas 6 saya masih yakin bahwa Soeharto adalah satu-satunya orang terhebat di negeri ini; dan tanpa dia NKRI tak akan menikmati imperialisme lagi.

Maka adegan yang paing saya suka saat itu adalah saat tentara kita mampu melawan pasukan NICA hanya dengan bambu runcing. Adegan itu pula yang memberi gambaran di pikiran saya tentang betapa hebatanya rakyat Indonesia di jaman awal kemerdekaan Republik ini.

Dan saat itu, bagi saya seluruh adegan di buku komik itu persis seperti yang terjadi sesungguhnya. Hingga suatu ketika, saat duduk di bangku SMP saya belajar tentang jurnalistik, khususnya tentang jenis sastra dan tulisan dalam bahasa Indonesia, saya baru tahu bahwa kalau buku tadi tergolong buku komik bergenre sejarah.

So, kalau kita diberi Tuhan akal budi untuk memahami realitas di sekitar kita, mengapa kita takut menonton film atau membaca buku sejarah?

Sebab, seperti kata Sang Bijak, andai saja Anda tak mengerti sesaat setelah membaca dan menontonnya, maka "akan tiba saatnya" Anda akan mengerti.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter