Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Profesor Berotak Kolor

Profesor Berotak Kolor
"Terlepas setuju atau tidak setuju, saya tidak setuju sama yang setuju," kata Cak Lontong saat mempresentasikan 'hasil survey'-nya pada acara ILK dua tahun lalu, dengan tema "Gelar Pendidikan Sebagai Jaminan Mutu".

Orang Karismatik dengan bungkur sekte akhir zaman sangat mengamini bahwa apa yang terjadi hari-hari ini sebagai tanda-tanda akhir jaman. Sebut saja ketika seorang ayah memerkosa putrinya, remaja menikahi nenek bangkotan, anak menggugat harta orangtuanya, agama dijadikan sebagai senjata pembunuh demi kekuasaan dan uang, dan masih banyak fenomena sejenis lainnya.

Sejalan dengan Cak Lonton, saya juga setuju dengan orang yang tidak setuju dengan sekte akhir jaman di atas. ha ha ha.

Apa yang terjadi hari-hari ini hanyalah ulangan dari peristiwa yang pernah terjadi di masa lal, dalam perjalanan sejarah bumi. Tak terkecuali dengan kebiasan ahli agama yang mengklaim Tuhan untuk membenarkan tindakan jahatnya. Bukankah Yesus juga mati karena keputusan ahli agama di zamannya? Bedanya, dengan bantuan teknologi, apa pun yang terjadi di sekitar kita hampir selalu dipublikasikan.

Saya tak tertarik dengan fenomena akhir jaman di atas. Hanya saja, fenomena yang akan saya singgung berikutnya justru menegaskan akan terjadinya "akhir zaman", tapi akhir zaman bagi dunia pendidikan kita.

Bagaimana tidak, di televisi dan internet, saban hari kita disuguhi berita yang akan membuat Plato dan Aristoteles menyesal seumur hidup karena telah memperkenalkan ilmu pengetahuan bagi umat manusia. Fenomena yang saya maksud adalah berita tentang para kaum intelektual dengan sederet gelar yang justru berpikir, bertutur dan bertindak tak rasional, dan selalu terlihat lebih tolol dari orang yang tidak bersekolah samasekali.

Saat diwawancara, diliput atau meliput diri sendiri untuk akun media sosialnya, bahkan saat mengungkapkan pendapatnya di depan publik, banyak profesor kita yang otaknya terlihat menor. Mereka adalah :
  • Profesor Hukum tapi otaknya fakum bahkan mesum,
  • Profesor Psikologi dan Filsafat tapi tingkahnya bak psikofat,
  • Profesor Sosiologi tapi kesehariannya malah sangat asosial,
  • Profesor Teknik tapi pola pikirnya selalu berbau klenik,
  • Profesor Agama, tapi otaknya ia malah anti-sesama manusia,
  • dst.
Kita tidak sedang berbicara tentang profesor di negeri asing. Mari kita fokus pada para profesor di negeri kita, termasuk mereka yang lulusan Luar Negeri dan lulusan universitas Dalam Negeri. Kenyataannya, banyak Profesor Doktor, entah Profesor + Doktor atau Doktor minus Profesor malah terlihat bak setan yang lulus dengan menipu.

Di Universitas-universitas, para Prof. Dr. di PTN/PTS kita justru sangat minus publikasi, tapi sangat sibuk membangun tirani. Misalnya, kalau rektornya Gultom maka jabatan strategis harus dipegang orang bermarga Gultom, terutama terkait uang dan kebijakan. Atau, minimal anggota keluarganya si Gultom atau anak buah yang pro-Gultom. Sebaliknya, bila ada Prof Dr. bermarga Nababan, dan kontra dengan Prof. Dr. Gultom tadi, maka bersiaplah ia menjadi dosen berlabel lakban, alias dosen pelapis.

Di Sidang-sidang Pengadilan, para Prof. Dr. bidang Hukum yang menduduk jabatan sebagai hakim, jakasa penuntut umum, pengacara, dst. justru bukan karena prestasi akademik atau karirnya. Kebanyakan justru karena unsur politik.Bayangkan saja, jauh sebelum putusan hakim, masyarakat sudah tahu hasil sidang Ahok, sidang Jessica vs Mirna, pra-peradilan Setnov, dst. Itu karena mereka tak menggali kebenaran dengan otaknya, tetapi justru mengikuti arus pasar : "Saha nu loba duitna, eta nu pasti meunang."

Di bidang Poltik, banyak pengamat politik yang bergelar Profesor Doktor, tapi analisisnya sangat dangkal. Ternyata selain karena memang otaknya cetek dan profesornya didapat karena beli jurnal untuk dipublikasi di media nasional, juga kerena para Prof. Dr. itu sekaligus berprofesi sebagai ketua partai, anggota dewan, bahkan menjadi pejabat publik.

Tak sedikit juga dari mereka yang malah berakhir di penjara, bahkan sebelumnya, saat tertangkap tangan melakukan korupsi, juga saat mereka dihadiahkan baju oranye dari KPK, para Prof. Dr. tadi malah asyik senyam-senyum pertanda puasa dan bahagia bisa jadi koruptor.

*****

Tak banyak seperti Profesor dengan kualitas keilmuan dan kepribadiannya yang selaras dengan kecerdasasannya. Sebut saja Profesor Reinald Kasali, Prof. JE Sahetapy, dan Profesor Dr. Ignatius Bambang Sugiharti. Selain menguasai bidang ilmunya, mereka juga selalu berupaya memaksimalkan ilmunya untuk kepentingan publik.

Entah karena begitu mudahnya mendapatkan gelar Profesor Dr. di PTN/PTS kita, entah karena tesis dan desertasi mereka saat S2-S3 di LN hanya terjemahan dari skripsi mahasiswanya, kita tak tidak tahu mengapa profesor kita banyak yang bermodal "geccor" (Batak, ribut),

Nyatanya banyak sekali profesor di negeri tercinta ini yang (-maaf!) berotak kolor, karena otaknya justru sangat gampang menyerap apa pun yang kotor.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter