Ad Unit (Iklan) BIG

Yerusalem dan Kekuatan Donasi

Yerusalem dan Kekuatan Donasi
Banyak negara mengecam sikap sepihak USA atas kliam Yerusalem sebagai ibukota Israel. Para pemimpin negara dan para pemimpin agama telah mengungkapkan kekecewaannya atas sikap tersebut.

Amerika tak bergeming. Trump justru makin pede. Asal tahu saja, para presiden pendahulu Trump, mulai dari George Bush Sr, George Bush Jr, Bill Clinton dan Obama juga menjanjikan kepada para pendukungnya untuk mendukung opsi Yerusalem sebagai ibukota Israel, khususnya selama masa kampanye mereka.

Bagi Trump, hanya dialah presiden yang berani konsisten dengan janji kampanyenya. Bisa jadi "kemampuan merealisasikan janji kampanye" ala Donald Trump itulah yang membuatnya didukung pemerintah dan rakyatnya. Walaupun ada juga satu dua demonstrasi di USA sendiri.

Dalam SU PBB juga, USA juga begitu percaya diri dengan keputusan Potus (Presiden of The United States)-nya. Ketika negara-negara lain menyerbu keputusan tersebut, Dubes USA untuk PBB malah menebar kekuatannya lewat VETO yang mereka punyai.

Nyatanya keputusan Donald Trump ini telah dijadikan sebagai "Tolok Ukur" oleh para pemimpin negara di dunia tentang strategi politik luar negeri mereka.

Negara-negara OKI dan negara-negara kecil di Timur Tengah "marah", negara-negara Uni Eropa agak marah, dan negara besar seperti Rusia dan Cina malah adem-adem saja.

Anehnya, keputusan Trump itu justru membuat negara-negara Arab ditiban konflik. Rudah pun dikirim ke istana Raja Arab, kendat tak mengenai sasaran.

Sepertinya hanya Presiden Jokowi dan Indonesia yang paling serius menentang keputusan sepihak Donald Trump tersebut. Ditengah negara-negara OKI, Presiden Jokowi mengajak negara-negara Islam untuk melawan keputusan USA tersebut.

Sayangnya, segala kutukan, teriakan, amarah, himbauan dan protes dari negara-negara tersebut kini justru semakin sepi. Walaupun beberapa negara tetap memperjuangkan Palestina lewat pengarah Dewan Keamanan PBB di New York.

Yaelah...USA kok dilawan di negerinya sendiri. Yang bener saja. Orang berterikan di gedung megah PBB di wilayah kedaulatan USA sendiri. Mereka bisa apa?

Andai saja dunia tak terbelah dalam blok-blok, khususnya pro Israel dan pro Palestina, maka persoalan Yerusalem tak serumit ini. Nyatanya perang Palestina-Israel justru semakin rumit dan melebar menjadi perang antara negara-negara pendukung Palestina dan negara-negara pendukung Israel.

Sedihnya, negara-negara yang pro Palestina akan menjalain kerjasama bilateral dengan Palestina dan tak menjalin kerjasama bilateral dengan Israel. Begitu sebaliknya. Itu sebabnya Saudi Arabia dan Amerika lebih diperhitungkan dalam menuntaskan konflik ini. Ini sisi politiknya.

Nyatanya persoalan uang jauh lebih besar memengaruhi konflik Yerusalem ini. Palestina menjadi sangat lemah karena faktanya, justru negara Amerika adalah donor terbesar untuk para pengungsi Palestina.
Sebagaimana dirilis oleh situs UNRWA, USA menempati urutan pertama dalam hal donasi ke Palestina.  Berikut 5 negara donor terbesar ke Palestina. Hanya Arab Saudi yang mewakili negara-negara kaya minyak di sekitar Palestina.
  1. United States of America = USD 380,593,116
  2. European Commission = USD 136,751,943
  3. United Kingdom = USD 99,602,875
  4. Saudi Arabia = USD 96,000,000
  5. Germany = USD 91,724,417
Kata Pak Togar di lapo tuak, "Hepeng do mangatur portibi on" (Uanglah yang mengatur dunia ini).

Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Subscribe Our Newsletter