iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Air Kekuasaan

Air Kekuasaan
SBY dan aliran air kekuasaan yang dibangunnya
SBY bermanuver, itu biasa. Ia merasa tak cukup 10 tahun berkuasa. Tentu saja. Sebab kekuasaan itu tak berujung bila terus ditapaki. Bahkan bila ia tak bisa berusaha sendiri, anak pun boleh dikorbankan.

Dari istananya di Cikeas, SBY bertekad menjadikan anak kesayangannya jadi penguasa, hanya untuk membenarkan segala yang salah selama 10 tahun pemerintahannya, juga mau membuktikan bahwa ia dicintai mayoritas rakyat Indonesia.
Akankah terbukti? Ya, kita lihat saja nanti. Yang jelas, Prabowo, juga para konco dan keluarga Soeharto mencoba mengembalikan kekuasaan itu ke Cendana. Dari istana buatannya sendiri di Hambalang, Prabowo memaksakan diri mengatakan Indonesia tambah hancur dibawah pemerintahan Jokowi.

"Aset negara ditangan asing dan aseng. Kemiskinan meningkat, dan rakyat kesulitan menjalani hidup," katanya meniru-niru gaya Soekarno.

Partai yang aneh adalah PKS dan turunannya. Mereka ingin berkuasa tetapi dengan cara berbeda. Mereka tak punya capres mumpuni, kecuali tokoh-tokoh yang jadi bahan tertawaan di muka bumi.

Tokoh-tokoh receh PKS itulah yang disuruh berkhotbah lewat twitter, mengunjungi mesjid-mesjid dan akhirnya rame-rame ke solo, berfoto di depan martabak Markobar, milik anaknya Jokowi.

Pertanyaan menarik adalah, "Emangnya Jokowi enggak haus akan kekuasaan?" Saya yakin, ya. Sama saha. Wong masih manusia kok. Twntu saja ia pasti punya hasrat untuk berkuasa. Buktinya, dia masih kepengen tuh jadi presiden.

Namun bisa jadi Jokowi tak sehaus para calon presiden lain yang belum pernah jadi penguasa numero uno di NKRI, atau sudah pernah tapi kepengen lagi.

Jokowi tak terlalu terlihat ngotot jadi raja. Walaupun itu masalah cara mengekspresikan diri saja.
Hanya saja, jelas terlihat banyak orang di sekitarnya yang kehausan dan belum terpuaskan. Bisa jadi itu orang partai pendukung atau sebagian besar rakyat yang selama ini bisa minum tuak dengan tenang di lapo-lapo di tepi danau Toba sana.

Nah, mereka ini butuh orang yang memberi mereka minum air kekuasaan. Tak peduli sebanyak apa. Pokoknya mereka itu minimal ikut kebagian. Kalau begitu, siapa yang paling mungkin menang dan jadi penguasa, yang berlomba memenuhi dahaga mereka?

Itu tergantung rakyat yang memilihnya. Itu juga tergantung pada pandangam rakyat tentang konsep dan makna kekuasaan. Tepatnya, apakah mayoritas rakyat lebih butuh pemimpin yang "memberi mereka sebagian minumannya" atau malah "pemimpin yang menyuruh mereka mencari minum sendiri"?

Pendeknya, siapapun presiden yang dipilih rakyat tahun depan, tak ayal lagi bahwa dia adalah representasi dari pandangan rakyat tentang konsep dan makna kekuasaan itu sendiri.


Lusius Sinurat

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.