iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Kekhasan Pendidikan Boarding School di Seminari

Refter (ruang makan) Seminari Menengah Pematang Siantar

Namanya saja Seminaris, jadi mereka harus berada di Seminarium, tempat di mana pesemaian yang khusus. Di sana para Seminaris didampingi dan dikembangkan dalam satu kelompok “bibit unggul” dengan materi dan sistem pengembangan yang khusus.

Suasana Seminari menjadi semacam sebuah paroki atau keuskupan kecil, karena sang pemimpin umat ini mulai menghidupi sebuah hidup bersama antar pelbagai suku/etnis, kepribadian dan tabiat berbeda: mereka belajar bersosialisasi dan berkomunitas.
  1. Di Seminari, paraa Seminaris:
  2. berlatih melayani dan memimpin lewat pelbagai latihan kepribadian dan praktek kerja dan karya serta organisasi;
  3. belajar bekerjasama, mengembangkan diri, bakat dan talenta demi kepentingan umum, penuh solidaritas dan disiplin serta belas kasih;
  4. belajar taat dan hormat kepada pimpinannya sekaligus kepada Gereja semesta dan Tuhan sendiri. Di seminari mereka belajar berdoa secara intens, berlatih memimpin doa, ibadah, dll.
Mengingat tujuan hidupnya yang sangat khas maka mereka juga membutuhkan suasana dan sarana bina diri yang lebih menyiapkan mereka untuk memasuki gelanggang pengabdiannya sesiap mungkin, jiwa dan raga, rohani dan jasmani, semangat dan daya.

Kendati mereka tinggal di seminari namun mereka tidak asing terhadap dunia dan keluarga. Tersedia waktu dan kesempatan untuk itu. Akhirnya, di Seminari, bina diri para Seminaris menjadi komplit dan prima. Bagaimana mungkin seorang belajar renang di ruang kelas saja tanpa terjun ke kolam renang?


Seminari Menengah Pematang Siantar tahun 1950-an
Biaya Pendidikan Seminaris

Seminari bukanlah panti sosial. Seminari adalah lembaga pendidikan yang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Benar bahwa, dua dekade silam Seminari kita mash mendapat banyak bantuan dari donatur luar negeri.

Sebagaimana kita tahu, orang-orang (Katolik) eropa itu memiliki kebiasaan memberikan bantuan secara rutin kepada Gereja, khususnya Seminari. Namun, kebiasaan itu rupanya tidak diwariskan kepada anak-anak mereka. Itu berarti derma dari luar negeri semakin hari semakin berkurang, bahkan habis seturut meninggalnya para donatur tersebut.

Akibatnya pihak keuskupan yang mengelola Seminari mengalami kesulitan dalam membiayai seminari. Inilah alasan utama mengapa pihak keluarga dari seminaris diikutsertakan membantu pembiayaan para calon imam tersebut.

Minimal biaya hidup mereka yang seyogianya mereka peroleh dalam keluarga kini dipindahkan ke Seminari. Sederhananya, keluarga (para Seminaris) harus membayar uang sekolah dan uang asrama, kendati tetap memperhitungkan kemampuan keluarga mereka.

Dana yang jumlahnya sangat minim dari keluarga itu memang dibutuhkan untuk biaya makan-minum 3 kali sehari para Seminaris, asrama layak dengan penerangan listrik, pemeliharaan gedung, juga pembayaran tenaga guru, staf dan karyawan Seminari.

Keuskupan dan keluarga yang mempunyai anaknya di seminari, bersama keluarga-keluarga yang murah hati lainnya, kiranya senantiasa bekerjasama agar tersedia cukup makanan dan minuman bergizi bagi para calon imam kita, agar cukup penerangan listrik, pelayanan kesehatan dll.

Agar para guru dan karyawan dapat dibayar secara pantas dan tidak di bawah batas kewajaran. Setiap orang Katolik bertanggung jawab atas terlaksananya pembinaan di seminari, pesan Sri Paus Yohanes Paulus II.

Adapun dari data seminari menengah Indonesia, biaya hidup di seminari bervariasi; yang paling murah adalah sebesar Rp 100.000,- sebulan untuk biaya asrama dan sekolah. Dan yang paling tinggi adalah Rp. 350.000,- sebulan bagi keluarga yang mampu. Data yang ada melaporkan bahwa tidak semua seminaris dapat membayar biaya ini setiap bulannya dan ini tentu menyulitkan seminari dan keuskupan sendiri.

Bagi yang kurang mampu, pihak seminari memberikan kemungkinan biaya yang lebih murah, sambil mengingat pesan Paus Yohanes Paulus II bahwa tiada seorang pun dapat disuruh pulang dari seminari hanya karena tidak mampu membayar biaya seminari.

Selain itu, ada paroki yang berinisiatif membantu memberikan dana tambahan bagi putra parokinya yang mengalami kesulitan finansial. Untuk tingkat nasional, Komisi Seminari KWI bekerjasama dengan GOTAUS: Gerakan Orang Tua Asuh untuk Seminari, mencari donatur-donatur dari kalangan umat untuk memberikan bantuan bagi anak-anak yang tidak mampu, secara berkala, sebulan sebesar Rp. 50.000,- saja.


Mengatasi kesulitan dana di Seminari?

Ada pelbagai usaha yang diupayakan oleh pihak seminari, paroki dan keuskupan. Pihak seminari dapat berupaya melalui penghematan. Juga melalui usaha-usaha swasembada seperti menanam sayur mayur, berkebun, memelihara ternak; sebagai kegiatan ekstrakurikuler dapat mengupayakan kerajinan tangan / ketrampilan berupa pembuatan rosario, lilin, usaha sablon, pembuatan patung / religious articles, toko buku, wartel; juga penampilan koor, ensembel musik, orkes, drumband yang sewaktu-waktu bisa mendapatkan dana.

Pihak paroki: dapat menjadi donatur pertama bagi seminaris putra paroki maupun boleh menawarkan diri untuk menanggung beberapa anak dari paroki lain sekalipun yang membutuhkan dukungan dana. Selalu ada umat yang sangat murah hati dan siap membantu andaikata mereka tahu dengan jelas. Ada umat yang secara rutin mengirimkan beras, minyak goreng dan kebutuhan lainnya.

Pihak paroki dapat mengundang para seminaris setahun sekali merayakan misa di parokinya selain sebagai promosi panggilan juga untuk mengetuk rasa tanggung jawab umat dalam ikut membantu pembinaan imam yang akan mengabdi mereka nantinya.

Keuskupan: sebuah gerakan bersama dan teratur kiranya dibutuhkan dalam bentuk komisi seminari / panggilan tingkat keuskupan. Mereka membantu uskup memikirkan kebutuhan seminari sekaligus membantu staf seminari agar para staf dapat lebih terfokus pada pembinaan calon imam dan bukan pada upaya pencarian dana sehingga anak-anak dan pembinaan dikorbankan. Mereka bisa merintis terbentuknya Gotaus tingkat keuskupan.

Terlalu berat bagi seorang rektor untuk memikirkan pembinaan seminaris sementara masih harus mengurus pembelian semen, dana perpustakaan, pencarian uang untuk pembayaran hutang di RS / puskesmas, peningkatan kesejahteraan guru agar mereka tidak lari dan pindah mengajar ke sekolah lain yang bisa membayar lebih tinggi.

Keuskupan dapat juga menentukan sebuah hari minggu khusus untuk berdoa dan berderma bagi seminari di seluruh keuskupan. Bahkan meminta umat memberikan derma khusus atau kolekte ke-2 sekali dalam sebulan.


Lusius Sinurat

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.