Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

SMCS Pematang Siantar Bukan Sekedar Sekolah

Grammatica 1994, SMCS Pematang Siantar

Di Seminari Pendidikan bukan melulu sebuah praksis pengajaran satu arah: dari guru ke murid. Di Seminari pendidikan yang diterapkan adalah pendidikan humanis yang memiliki filosofi mendalam.

Maka tak mengherankan bila sistem pendidikan yang diramu dalam satu paket (sekolah dan tempat tinggal) di Seminari adalah Pendidikan kehidupan. Pendidikan kehidupan yang dimaksud di sini adalah pendidikan yang menekankan aspek moral, budaya, humanisme dan secara khusus menekankan pentingnya pendidikan cinta kasih.

Itu sebabnya para alumni Seminari tak mungkin melupakan almamaternya. Bagi kebanyakan dari alumni Seminari selalu mengatakan bahwa pola pendidikan yang mereka dapatkan di Seminari di masa lalu adalah pola yang menyenangkan.

Pandangan tentang asyiknya belajar di Seminari di masa lalu tentu datang dari perspektif masa kini. Seperti atlit lompat jauh, kita juga butuh mundur beberapa langkah untuk mencapai lompatan terjauh.

Dalam berbagai kesempatan, kami para alumni Seminari selalu mengenang para pastor, bruder, suster, para guru, dan semua staff Seminari yang pernah menemani kami selama 4 tahun di sana. Di kurun waktu 1993-1997 misalnya, kami tak lupa dengan Pak ST. Ginting (alm), Pak BD Marbun (alm), Pak Poerwanto, Pak Rumahorbo (alm), Pak Regar (alm), Pak A. Lingga, Pak JK Nainggolan, Pak Ginting Jr, Pak Napitupulu, Pak Damanik, ibu Sinaga, Sr. Vero, Sr. Louis, Sr. Maria, Sr. Blanca, Sr. Yosin, Sr. Bonita, Sr. Florensia, dan tentu saja Ibu Nelly Sitanggang yang masuk bersamaan dengan kami di tahun 1993.

Selanjutnya, para pastor yang selalu mengisi hati kami di masa itu adalah Pastor Anselmus Mahulae OFM Cap, Pastor Agustinus Yew OFM Cap, Pastor Urbanus Tamba OFM Cap, Pastor Philipus OFM Cap, Pastor Eduard Verrijt OFM (alm), Pastor Sarjan, dan tentu saja bruder paling menonjol Br. Gerard Lim OFM Cap.

Seminari boleh berubah, mulai dari bentuk atau penambahan bangunan fisik, juga guru dan siswa yang silih berganti, namun kekhasan Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar tetaplah abadi.

Di Seminari kami yang berlatarbelakang doublle homogen (laki-laki dan Katolik) diajari menjadi pria sejati yang tak angkuh saat di posisi teratas dalam hidup sekaligus tak minder dan tak putus asa saat berada di posisi terendah dalam hidupnya.

Seperti ditegaskan bersama oleh seluruh pembina Seminari, sepanjang masa pendidikan kami dididik aspek kerendahan hati sebagai modalitas kehidupan kami kelak di tengah masyarakat. Kenangan akan Seminari itulah yang tetap membuat kami bersemangat menjalan hidup. Ada roh yang mempersatukan antar kami yang satu angkatan, dengan kakak-adik angkatan, dengan Seminari secara keseluruhan, dan juga roh yang mengusik hati kami untuk selalu peduli pada sesama di sekitar kami.

Penulis hendak menekankan bahwa jika sesuatu input yang kita dapatkan baik, dan dalam prosesnya pun baik, maka outputnya pasti baik. Sebab tak seorangpun menjadi hebat ketika memulai suatu pekerjaan, tetapi mulailah setiap pekerjaan untuk bisa menjadi hebat dalam hasil.

Jalani Panggilan Seputih Gedung Putih

Menjalani Panggilan Seputih Gedung Putih
Gedung Seminari Christus Sacerdos Pematang Siantar sekarang
Pada bulan Februari 1993 jalanan menuju Seminari Christus Sacerdos yang terletak di Jalan Lapangan Bola Atas No.24 Marihat, Pematang Siantar tapak dipadati para remaja yang berjalan kaki dari Simpang Marihat menuju Seminari. Kala itu, 25 tahun silam, untuk pertama kalinya sebagaian besar dari ratusan remaja baru melihat langsung "Gedung Putih".
Gedung Putih adalah sebutan khas untuk gedung Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematang siantar. Ya, kala itu kami sedang mengikuti tes masuk Seminari untuk tahun ajaran 1993/1994. Anehnya, kebanyak dari kami justru tak tahu sejarah berdirinya Seminari yang kini sudah semakin ramai peminatnya itu.

Perjalanan panjang Seminari Menengah Christus Sacerdos

Seminari Menengah Christus Sacerdos (selanjutnya diringkas SMCS) berawal dari Padang pada tahun 1950. Pada saat Seminari Menengah didirikan, Indonesia masih dalam status Daerah Misi. Hal ini berpengaruh pada status kemandirian Gereja. Belum ada Keuskupan yang berdiri, melainkan baru Vikariat Apostolik yang secara langsung berada dibawah perhatian Vatikan. Di saat yang sama, Gereja Katolik sendiri baru berumur 14 tahun memasuki Tano Batak (tanah Batak) dan tentu saja masih dilayani oleh misionaris dari luar negeri.

Tenaga pelayanan pastoral masih sangat terbatas. Situasi perang juga menjadi kendala utama umat Katolik di tanah Batak tak pernah mendapatkan kunjungan pastor. Tentu, keterbatasan tenaga pastor saat itu juga menjadi kendala penting lainnya. Saat itu, kunjungan pastor ke umat Batak bisa dikatakan mustahil terjadi.

Kondisi ini di kemudian hari menjadi perhatian Gereja, tepatnya setelah Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan Soekarno-Hatta. Para misionaris mulai memikirkan solusi bagi kekurangan imam saat itu. Mendirikan Seminari oleh karenanya dipandang sebagai sebuah kebutuhan yang sangat mendesak.

Apalagi, jauh hari sebelum berdiri Seminari Menengah di Pulau Sumatera, sudah ada 20 orang yang dikirim ke Semiari di Flores, Jawa dan Sulawesi. Bahkan ada juga beberapa yang dikirim ke Negeri Belanda.

Mereka yang dirikirm itu sebagian besar datang dari keluarga orang Indo dan Tionghoa, dan hanya 1 orang dari keluarga Batak. Salah seorang dari calon imam yang dikirim itu akhirnya ditahbiskan menjadi imam. Dia adalah Pastor Berthus Vogdt Pr yang pada tahun 1947 ditugaskan menjadi Pastor Paroki di kota asalnya, Padang.

Sesungguhnya pada tahun 1948 telah dibuka kelas Probatorium (kelas Percobaan) di Pematangsiantar. Kelas Probatorium ini dikhususkan bagi anak-anak yang ingin jadi imam. Tidak banyak anak yang melamar.

Namun, dari mereka yang lulus Kelas Probatorium selanjutnya dikirim dikirim ke Flores untuk studi lanjut. Sayangnya dari kelompok ini tak satupun yang berhasil ditahbiskan menjadi imam. Akibatnya, beberapa tahun kemudian Kelas Probatorium tadi ditutup.

Namun, usaha untuk mendirikan Seminari Menengah tak berhenti di situ. Pada bulan September 1949, Mgr. Mathias Brans OFM Cap, Vicarius Apostolicus Medan saat itu lantas memutuskan untuk membuka Pusat Pembinaan Imam yang cukup lengkap di kota Padang.

Banyak pastor berpendapat bahwa keputusan Mgr. Brans terlalu prematur. Bagaimana tidak, keputusan tersebut justru diambil karena desakan Duta Besar Vatikan di Jakarta, Mgr. De Jonghe d’Ardoye. Sebagai informasi, sejak tahun 1949 kota Padang termasuk wilayah Vikariat Apostolik Medan.

Namun Mgr. Brans tak bergeming. Beliau mulai mencari lokasi untuk mendirikan Seminari Menengah. Setelah melalui pertimbangan yang terburu-buru, beliau pun menetapkan sebuah gedung Panti Asuhan Anak Yatim Piatu yang sudah berdiri jauh hari sebelum perang dunia kedua.

Pastor Nivardus Ansems dipilih menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mempersiapkan pendirian Seminari Menengah tersebut. Ia seorang Pastor ahli Kitab Suci dan merupakan alumni Universitas Biblicum di Roma. Kala itu Pastor Ansems baru saja datang ke Indonesia dan masih sibuk belajar Bahasa Indonesia di Sabang.

Sebelum Seminari Menengah didirikan, secara tak terduga, Pastor Ansems meninggal secara mendadak pada tanggal 23 April 1950. Sebagai penggantinya dipilihlah Pastor Bernardinus van de Laar dan Pastor Wendelinus Willems, dua pastor yang sebelumnya bertugas sebagai pastor tentara. Artinya, kedua pastor ini samasekali tidak berpengalaman di bidang pendidikan.

Kendati demikian, sebagai alumni Seminari Menengah, keduanya tetap memulai karyanya untuk mendirikan Seminari Menengah di Vicariat Medan saat itu. Seminari Menengah yang mereka bayangkan adalah Seminari Menengah yang telah ada dan pernah mereka alami di negeri Belanda.

Itu lantas berarti, Seminari Menengah yang mereka bayangkan bukan Seminari seperti saat ini, yakni Seminari untuk SMP dan Seminari untuk SMA. Mereka justru menyiapkan Seminari yang mempersiapkan murid-muridnya ke Seminari Tinggi dan kemudian menjadi imam.

Bahasa Latin menjadi mata pelajaran utama. Pendidikan karakter dan pembentukan kepribadian secara bersamaan mendapat perhatian yang sama dengan pendidikan intelektual. Hidup rohani perlu dipupuk, tata-tertib dan disiplin merupakan sarana pendidikan utama. Ini adalah ide yang terbersit di benak kedua pastor tentara tadi.

Tugas pertama kedua pelopor itu ialah membereskan gedung panti asuhan yatim piatu tadi menjadi Seminari Menengah. Panti asuhan sendiri pernah digunakan tentara Jepang dan Belanda selama perang dan revolusi, dan di kemudian hari pernah menjadi tempat itnggal anggota Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan keluarga mereka.

Selama proses "konveri" gedung panti Asuhan menjadi Seminari Menengah 20 murid pertama pun diterima. Mereka datang ke Padang pada tanggal 27 Agustus 1950. Ke-20 murid pertama itu, 16 orang diantaranya berasal dari Tapanulli, 2 orang dari Simalungun, dan dua orang lagi dari Karo.

Tahun ajaran baru dibuka dan ditandai dengan Perayaan Ekaristi pada tanggal 1 September 1950 pukul 06.00 wib. Berikutnya, pada pukul 07.30 wib lonceng Seminari Menengah Christus Sacerdos Vikariat Apostik Medan berdentang merdu menandi pelajaran pertama. Hari inilah yang ditetapkan sebagai hari lahir (Dies Natalis) Seminari Menengah Vikariat Apostolik Medan.

Tantangan Pertama

Di usianya yang masih dua minggu (14 hari), kesulitan-kesulitan lebih besar justru bermunculan. Kesulitan ini bahkan samasekali tak diduga oleh Direktur dan Prefek Seminari. Dua puluh siswa pertama tadi ternyata tidak diseleksi. Mereka tak melalu test masuk seperti lazimnya masuk Seminari Menengah. Mereka diterima hanya atas alasan berikut: "mau jadi pastor", membawa surat persetujuan orang tua, voorhanger stasi dan guru sekolah sebelumnya.

Maka tak mengherankan bahwa dari mereka ada yang baru berumur 14 tahun, tetapi juga ada yang telah berumur 20 tahun. Belum lagi ada yang telah tamat SD, ada yang baru tamat Kelas 1 atau Kelas 2 SMP, tetapi juga ada yang sudah pernah belajar di OVVO (Opleiding Voor Volksonderwijzers), sejenis sekolah pendidikan guru.

Mereka adalah anak-anak yang termasuk generasi perang dan revolusi. Bagaimana tidak, dengan kondisi masih perang, kegiatan belajar mengajar (KBM) di ruang kelas belum bisa berlangsung tertib. Bahkan semuanya tak tahan menjalankan disiplin yang ketat.

Dua minggu kemudian (hari ke-28) pelajaran sekolah malah macet. Direktur Seminari lalu mencari jalan keluar yang ganjil. Para seminaris justru disuruh mengikuti SMP di kota. Hanya pelajaran Bahasa Latin, Agama dan Liturgi yang diberikan sebagai pelajaran tambahan di asrama.

Tragisnya lagi, untuk mata pelajaran Bahasa Latin justru tada tersedia buku dan Kamus Latin-Indonesia. Seminaris malah dipaksa menggunakan buku Bahasa Latin-Belanda. Itu berarti para seminaris yang diterima tanpa seleksi tadi harus dua kali menterjemahkan setiap kata Latin. Misalnya Equus = paard = kuda, Puellas = meisje = gadis, dst.

Untuk mengatasi kesulitan tadi, para siswa pun diberi pelajaran tambahan Bahasa Belanda sebanyak 12 kali dalam seminggu. Tujuannya sangat jelas, yakni agar mereka dapat belajar Bahasa Latin.

Tantangan Kedua

Pada akhir Oktober 1950 Direktur Seminari dan para Prefek membuat keputusan yang sangat radikal. Semua murid, kecuali yang sudah belajar di OVVO tak lagi melanjutkan SMP di luar seperti sebelumnya. Mereka hanya belajar di Seminari dan digabungkan dalam satu tingkat, yakni kelas Probatorium.

Dapat dibayangkan betapa kecewanya para seminari yang telah menuntaskan kelas satu atau kelas dua SMP di luar. Tak berhenti di situ. Keputusan buruk tersebut ternyata mendatangkan akibat buruk pula. Para sseminaris tadi gusar dan galau. Kegalauan itu mereka tampilkan dengan tidak mau belajar sungguh-sungguh, menggerutu tentang makanan yang kurang, merasa rindu ke kampung, dan ekspresi kekesalan lainnya.

Sebetulnya keluhan-keluhan tadi tak pernah terdengar oleh direktur dan Prefek. Mereka tahu bahwa makanan sederhana yang dihidangkan sangat sesuai bahkan lebih daripada uang asrama dan uang sekolah yang mereka bayarkan. Dengan uang sebanyak Rp 15,- untuk biaya sekolah dan asrama dan Rp. 0,25 (25 sen) per bulan untuk buku tulis, sabun dan tapal gigi maka wajar hidup sederhana seperti itu. Belum lagi menu makan sederhana ini ternyata disusun berdasarkan nasihat seorang dokter.

Memang tak tampak pemberontakan yang terbuka. Hanya, tak lama setelah kejadian di atas, dua siswa meninggalkan Seminari. Sementara mereka yang masih tinggal di Seminari justru "melantunkan kidung keluhan saban hari", mulai dari penampilan yang lesu, mengeluh lapar sembari mengatakan bahwa pastor di kampung lebih baik dibanding pastor di Seminari.

Suasana gurun ini terus berlangsung hingga Natal tiba. Bahkan, usai Pesta Natal, wajah para Seminari tadi mulai cerah kembali.

Aktivitas Sehari-hari

Semua seminaris diharuskan bekerja bakti setiap hari, tanpa kecuali. Saat ini istilah untuk kerja bakti ini disebut Perwujudan Citra (PC). Begitu juga yang terjadi di Seminari Padang. Direktur Seminari sendiri yang menjadi pengawas kerja bakti. Para seminari diharuskan belajar mengelola kebun sayur, membersihkan pekarangan asrama, raung makan dan kamar tidur.

Kerja bakti ini bukan sekedar merawat kebun atau membersihkan lingkungan Seminari. Kerja bakti ini justru menjadi sarana pendidikan yang penting bagi seminaris. Tujuannya, agar kelak setelah menjadi pastor mereka mampu hidup sederhana, dekat dengan umat yang saat itu mayoritas bekerja sebagai petani.

Tenaga Pengajar

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, beberapa guru dari luar didatangkan ke Seminari untuk membantu. Mereka adalah Fr. Ranulfo membantu mengajar Menggambar, Pastor Vogdt mengajar Bahasa Indonesia yang dibantu oleh Fidelis Lies (seorang mantan seminaris).

Masa Libur

Pada saat Natal dan Paska, seminaris tetap tinggal di Seminari. Bukan apa-apa, soalnya, pulang kampung (mudik) butuh biaya yang sangat mahal. Untuk mengisi waktu liburan mereka mengadakan excourse di bandara Tabing Padang dan di pabrik semen di Indarung.

Mengawali semester kedua, semangat seminaris seudah semakin membaik. Berbagai keluhan selama semester pertama tak lagi digemakan. Sebaliknya tata-tertib mulai mereka hargai, selera kerja semakin bangkit, dan perlahan-lahan tanda-tanda kesalehan mulai terlihat.

Terkati kondisi ini, Direktur Seminari menulis dalam buku arsipnya, "Doa umat Katolik untuk Seminari kini mulai menghasilkan perkembangan yang ajaib dalam diri siswa kita." Demikianlah tahun pertama yang amat berat ini berakhir dengan nada yang optimis.

Tahun Kedua

Pada tanggal 30 Juni 1951, Pastor Crispinianus Theeuwes OFM Cap ditempatkan sebagai staf dan tenaga ahli di Seminari. Bagaimana tidak, ia telah 14 tahun berkarya di Seminari Kapusin di Nederland sebagai guru dan prefek.

Pada tahun ajaran kedua (1951) dimulai dengan 15 murid Probatorium, 17 murid Kelas I, dan 1 murid di Kelas II. Diantara murid probatorium yang baru itu terdapat Alfred Gonti Datubara, yang, di kemudian hari menjadi Uskup Agung Medan.

Pastor Crispinianus memang seorang prefek kawakan. Kegiatan seminaris semakin bervariasi. Dengan pertolongan Fr. Ranulfo beliau mendirikan Perkumpulan Pandu di Seminari dan diikuti oleh semua siswa.

Setiap hari Kamis para siswa berkumpul untuk memainkan permainan-permainan khas yang digemari oleh Pandu di seluruh dunia. Bermacam ketrampilan dipelajari: mengirim kabar dengan tanda-tanda morse, memasak, memberi pertolongan pertama kalau ada kecelakaan, dst.

Biaya untuk kegiatan-kegiatan itu dibayar dengan merangkaikan rosario dan hasil karya tangan lain yang kemudian dijual. Untuk anak Seminari yang masih kurang terbentuk, gerakan kepanduan ini menjadi sekolah tata-tertib, ketaatan, kejujuran, ketelitian.

Di setiap Pesta Natal dibangun kandang Natal istimewa dan kreatif. Kandang domba diganti dengan rumah adat Batak yang dibuat dengan sangat teliti, lengkap dengan ukir khas Batak dan warna tradisional Batak (merah, hitam, putih). Bayi Yesus ditaruh di kolong rumah adat tadi.

Bahkan di awal tahun 1951 Pastor Crispinianus memulai sebuah tradisi yang selanjtunya menjadi ciri khas Seminari, yakni bermain sandiwara. Sandiwara pertama yang ditampilkan saat itu adalah "Natal Bagi Semua Orang".

Sandirawa dengan judul di atas adalah satu-satunya teks drama berbahasa Indonesia kala itu. Sandiwara ini pertama kali ditampilkan di ruang tidur (domus) Seminari. Selanjutnya ditampilkan di aula Katedral Padang. Para penonton merasa puas dan tertawa lepas. Para pemain bahkan merasa bangga. Itu kesan yang muncul saat penampilan sandiwara yang disutradarai langung oleh Direktur Seminari itu.

Pada tanggal 3 Februari 1951 mulai lagi satu tradisi baru. Para seminaris berenang ke kolam renang Teratai di kota Padang dengan biaya Rp. 1 per bulan. Pada Tahun Baru 1 Januari 1952 ditambah lagi tradisi baru. Setiap siswa diberi hadiah tahun baru sebesar Rp. 2.50,- dari Kas Seminari. Menurut catatan di buku arsip Direktur Seminari, uang tadi bisa dihabiskan untuk konsumsi extra. Sangat disayangkan, tradisi ini tak diteruskan hingga kini.

Pada tanggal 22 Mei 1952 tahun ajaran selesai. Para Seminaris diperbolehkan pulang. Mereka diantar naik kapal KPM Siaoe ke Sibolga, dan dari sana mereka bertolak ke kampung masing-masing dengan menumpangi bus.

Seminari Mulai Berbentuk

Direktur dan staff Seminari makin percaya diri. Tak mengherankan ketika tahun kedua jauh lebih berhasil dibanding tahun pertama. Kini, Seminari mulai berbentuk.

Hanya saja, di tahun kedua Congregation Propaganda Fidei di Roma memutuskan bahwa daerah Sumatera Barat akan dipisahkan dari wilayah Vikariat Apostolik Medan, dan Padang menjadi Praefectura Apostolica Padang (19 Juni 1952).

Itu lantas berarti bahwa Seminari Menengah milik Vikariat Apostolik Medan ini harus dipindahkan ke Sumatera Utara. Tapi dimana tempatnya? Mula-mula kota Brastagi menjadi salah satu pilihan. Namun setelah memperhitungkan berbagai hal Kota Pematangsiantar pada akhirnya dipandang paling sesuai.

Di kota Pematangsiantar Keuskupan Medan menemukan sebidang lahan seluas 8 hektar yang terlekat di Jalan Lapangan Bola Atas Pematangsiantar. Di atas tanah itu kemudian dibangun Seminari dan Rumah Sakit Katolik.

Pada tahun 1952 gedung baru Seminari Menengah pun berdiri. Seminari baru ini dapat menampung 150 siswa. Gedung ini kemudian mulai digunakan pada Tahun Ajaran Ketiga dengan siswa sebanyak 36 orang.

Jumlah Staf dan guru pun diperkuat. Tiga orang staf baru didatangkan. Mereka adalah Br. Nocenti SX sebagai pembantu prefek sementara, Pastor Theodoricus Schrijver OFMCap sebagai prefek dan ekonom, serta Br. Deogratias OFMCap sebagai pengurus ternak dan membantu prefek.

Pada bulan Oktober 1952 Seminari dikunjungi Duta Besar Vatikan, Mgr. de Jonghe d’Ardoye. Beliau disambut dengan meriah. Dalam sambutannya yang disampaikan dalam Bahasa Latin, Mgr. de Jonghe menekankan tiga unsur utama dalam pendidikan seorang seminaris, yakni Pietas (kesalehan), Sapientia (kebijaksanaan), dan Disciplina (tata-tertib).

Perubahan Kurikulum

Pada awal tahun ajaran keempat (19953-1954) diambil satu keputusan yang turut menentukan masa depan Seminari. Kurikulum diubah sedemikain rupa. Keputusan ini diambil atas anjuran Pastor Ferrerius van den Hurk OFM Cap yang pada saat itu menjabat Superior Kapusin dan Vikjen Keuskupan Medan yang dipimpin oleh Mgr. Brans.

Berikut adalah keputusan yang dimaksud:

  • Di tahun akhir kelas tiga (Kelas 3 SMP), seminaris dapat mengikuti ujian SMP yang diselenggarakan pemerintah.
  • Di akhir kelas enam (Kelas 3 SMA), seminaris dapat mengikuti ujian SMP yang diselenggarakan pemerintah.

Pada bulan Desember 1953 dirayakan Pesta Perak Pastor Wendelinus Willems. Dua sandiwara jenaka dipentaskan. Pertama berjudul "Pastor Bandar Ribut" dan "RRI-Radio Raksasa Istimewa". kedua judul sandiwara ini masing-masing ditulis oleh Prefek Seminari Pastor Crispinianus dan Direktur Seminari, Pastor Bernardinus OFM Cap.

Selanjutnya di bulan yang sama para staff merancang gambar gedung Seminari yang baru. Gambar itu lalu disetujui Mgr. Brans. Bulan Juli 1954 untuk pertama kalinya, sepuluh siswa Seminari ikut ujian SMP pemerintah. Semuanya lulus dengan angka yang baik. Siswa mulai bangga atas Seminarinya.

Tahun ajaran keempat (1953-1954) Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai dengan 60 siswa. Bersamaan dengan perubahan itu, nama-nama tinkatakan kelas juga diganti dalam bahasa Latin:

  1. Prima, Secunda, Tertia (untuk Seminarium Minus / tingkat SMP);
  2. Probatorium (untuk Kelas Persiapan Pertama/KPP);
  3. Grammatica, Syntaxis, dan Poesis (untuk Seminarium Medium / tingkat SMA); dan
  4. Rhetorica (untuk Kelas Persiapan Atas/KPA).

Pada bulan November 1953 dirayakan Pesta Perak Direktur Seminari. Kala itu Seminari menjelma menjadi "Kota van de Laar" dengan hotel, restaurant, kedai kopi dan penjara. Bagaimana tidak, tamu undangan yang hadir adalah wali kota, polisi, bahkan narapidana. Sepanjang hari diramaikan dengan pasar malam dengan pementasan "Riwayat hidup Pastor van de Laar" yang dibawakan secara jenaka oleh kelas Syntaxis. Para tamu undangan kagum atas kreativitas siswa Seminari.

Tradisi pesta perak dan pesta emas para pembina, guru dan staf Seminari berawal dari momentum di atas, dan hingga saat ini masih tetap dipraktikkan. Tahun 2018 ini misalnya, ibu Nelliana Sitanggang akan merayakan 25 tahun pengabidannya sebagai guru di Seminari. Ada perayaan khusus untuk beliau.

Bulan Februari 1954 dimulai lagi suatu tradisi baru. Para seminaris berjalan kaki sepanjang 50 kilometer untuk melihat bunga raksasa "Raflesia Arnoldiana". Tradisi ini berikutnya disebut Long March. walalupaun kaki gempor dan sakit, tetapi hati Seminaris justru terlihat senang. Sementara itu gedung Seminari yang baru di Pematangsiantar hampir selesai. Perlengkapan Seminari di Padang dipetikan dan dikirim ke Pematangsiantar dengan enam mobil truk.

Tanggal 12 Juni 1954 murid berangkat untuk berlibur panjang. Minggu berikutnya para staf mulai libur. Direktur Seminari biasanya liburnya justru paling akhir. Masa Padang pun telah lewat. Kini tiba saatnya masa Pematangsiantar dimulai. Direktur Seminari di Padang kala itu menulis dalam arsipnya: Procedemus in Pace (Marilah kita maju dengan damai)


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter