Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Mampukah Simalungun Menjadi Kabupaten Dengan Birokrasi Bersih?

Mampukah Simalungun Menjadi Kabupaten Dengan Birokrasi Bersih?
Wagner Damanik bersama istri, Maya Purba
Masyarakat Simalungun itu unik karena keberagamannya. Kabupaten Simalungun bisa disebut Indonesia mini, karena keberagaman suku dan agamanya. Ada Simalungun, Toba, Karo, Jawa, Tonghoa, Pakpak, dst. Selain Gereja dan mesjid, banyak juga berdiri vihara.

Bahasa dan dialegnya juga sangat beragam. Bahkan bahasa Simalungun di Saribudolok dan Raya sudah berbeda. Belum lagi dialeg Jawa yang khas Sumatera, yang kerap menyelipkan kata "bah" di awal kalimat mereka.

Tak pernah terjadi konflik di antara mereka yang beragam itu. Pertama dan utama yang harus kita tahu, bahwa kabupaten Simalungun tidak didirikan sebagai wilayah representasi suuku Simalungun.

Sebut saja Parapat yang sangat Toba, Pardagangan yang sangat Jawa, atau Silimakuta yang berwarna Karo sejak awal. Simalungun bukanlah Samosir, Taput, Tobasa, atau Humbahas yang sejak awal merupakan hunian masyarakat Toba.

Keberagaman ini menjadi kekhasan Simalungun, termasuk di pemerintahan. Bupatinya kadang Simalungun dan kadang Toba, SKPD-nya juga ada Kawa, Pakpak, Karo, dll. Tak ketinggalan anggota DPRD nya yang juga beragam.

Di sisi lain, dari sudut pandang potensi SDM dan SDA-nya (tanah subur, iklim stabil, pemandangan nan indah, dst), kabupaten Simalungun sudah semestinya melejit maju hingga mengalahkan Kabupaten tetangganya.

Bagaimana tidak, kebun karet dan sawit milik PTPN dan swasta ada di Simalungun. Sayur mayur dan buah-buahan yang paling segar ada si Simalungun. Orang pintar dan kaya juga banyak dari Simalungun. Tak hanya Cosmas Batubara, tapi juga Bungaran Saragih, dan lainnya.

Biasanya, di masa-masa pemilu dan pilbup kita akan tahu betapa banyak warga kabupaten Simalungun yang terkenal dan tajir.

Sekarang saja, siapa yang tak mengenal RHS atau Radiopo Sinaga yang rajin menyambangi masyarakat di nagori-nagori dan menyumbang mereka?

Dan pasti akan lebih banyak lagi yang mengenl Irjen (Pol) Drs. Wagner Maruli Damanik, M.A.P, jenderal bintang dua yang rela "turun gunung" dan siap memberi energi baru bagi kemajuan Simalungun.

Kehadiran cabup berlatar pengusaha tajir macam RHS dan cabup pendidik Lemhanas macam Wagner Damanik pada akhirnya adalah untuk meredefinisi kekuatan Simalungun di atas. Belakangan Wagner Damanik bahkan semakin menyentuh hati masyarakat Simalungun

Mengapa potensi SDA dan SDM yang begitu kaya tak sanggup memgangkat Simalungun menjadi kabupaten yang maju? Tanpa mengesampingkan peran bupati-bupati sebelimnya, mengapa Simalungun yang PDA nya tinggi namun birokrasinya amburadul, dan infrastrukturnya hancur lebur?

*****

Kegagalan bupati sekarang dalam menata pemerintahan kabupaten Simalungun adalah penyebabnya. Kolusi dan nepotisme menjamur, yang berikutnya melahirkan para pajabat korup.

Para pejabat publik di Simalungun seakan hanya peduli pada diri sendiri dan keluarganya. Tak jarang beras raskin pun ditelan sendiri oleh pejabat, bahkan dijual.

Bupatinya cenderung otoriter dan bermental korup, dan mengontrol Simalungun dari televisi, koran, rumah sakit, sekolah, universitas dan hotel miliknya sendiri.

Tak ada yang protes. ASN adalah pihak yang paling gemetar saat memprotes, karena dihantui pengalaman rekan mereka seblumnya: di non-job kan atau disingkirkan.

DPRD adalah mitra karib bupati. Bisa dikatakan bahwa ketua DPRD selama 2 periode terakhir ada dibawah ketiak sang bupati. Boro-boro menampung aspirasi para honorer yang tak digaji 3-5 tahun, anggota dewan terhormat itu justru berlomba menjadi jurkam dan tim pemenangan sang bos.

Simalungun memang semrawut, dan terutama mental korup pejabatnya sudah pada tingkat akud.

Warga Simalungun sangat tahu bahwa menjumpai camat, kepala dinas, kepala puskesmas, dan pejabat penting lain bukan pekerjaan mudah. Mereka sering tak berada di tempat. Padahal warga datang dari nagori nun jauh, puluhan kilometer dari kabupaten.

Maka, bila JRS dianggap sebagai putra terbaik Simalungun, maka disaat yang sama ia dan bawahannya justru memberi pelayanan terburuk.

Di titik inilah, terutama menjelang kontestasi politik atau pemilihan bupati baru tahun depan menjadi panggung refleksi bagi masyarakat.....

"Saya akan memilih cabup yang baik bak sinterklas (seperti 2 pilbub sebelumnya) selama masa pencalonan atau memilih cabup yang secara konsisten pada prinsip kepemimpinannya tanpa money politic?"

Dua calon hebat sudah di depan mata. Mereka maju dengan strategi berbeda. Yang satu dengan pendekatan bisnis, yang lain dengan pendekatan birokratis.

Sesungguhnya, di atas semua hal itu, saya mengagumi calon pemilih yang berani menantang publik dengan mengatakan, "Saya jamin calon kami adalah orang paling tulus dan tak membantu demi memenangkan pilbup tahun depan."

Ini yang paling luarbiasa, terutama di era digital yang membuka kesempatan bagi siapapun untuk menuliskan pendapatnya di medsos. #SaiNaAdongDo



lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter