Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Marga, Isini Puro-puro dan Sinterklas

Marga, Isini Puro-puro dan Sinterklas
Untuk berbagai kepentingan marga-marga yang sama berkumpul. Tentu, tak mungkin seluruh orang Batak yang bermarga berkumpul di satu tempat. Kayaknya itu impossible banget deh.

Karena jumlah orang Batak yang bermarga amat banyak, biasanya kumpulan paling bedar itu hanya dimungkinkan dari keturunan ompung yang sama. Misalnya, kumpulan marga silahisabungan sedunia, siraja oloan sedunia, dst. Tapi ini juga terlalu besar jumlahnya.

Untuk itulah dibentuk persatuan/perkumpulan marga yang sama di tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota, hingga desa/huta. Biasanya hanya perkumpulan marga di tingkat desa, kabupaten/kota danbpropinsi yang paling memungkinkan untuk bertemu. Itu pun tak pernah sampai 50% berkumpul.

Secara politis, perkumpulan marga yang paling mudah dipersatukan adalah perkumpulan tingkat kabupaten/kota. Tapi itu juga tergantung luas daerah dan banyaknya masyarakat dalam satu rumpun marga di kabupaten/kota tersebut.

Kabupaten Samosir merupakan wilayah kecil dengan variasi marga yang banyak untuk menyatukan orang-orang semarga ini. Tampaknya sangat mudah bagi marga Parna, Silahisabungan, Lontung, Siraja Oloan, dst untuk berkumpul. Daerah Pangururan, Ambarita, Tuktuk, Tomok, Onan Runggu, Naingholan, Palipi Simbolon, Hutanamora, dll akan santa mudah dijadikan pusat petkumpulan semarga.

Dari mereka-mereka inilah lahir raja adat dan raja huta. Anda tahu, para pengurus perkumpulan marga dominan di sebuah huta seringkali dinobatkan sebagai raja adat di huta rersebut.

Pendek kata, Sejak dulu masyarakat Batak sudah punya konsep pembagian wilayahnya sendiri. Huta adalah wilayah paling kecil, dan biasanya dikepalai oleh marga si perintus huta.

Misalnya, huta Hatoguan itu dirintis marga Sinaga, dan marga Sinaga selalu merasa yang empunya huta, dan oleh karenanya hajya dari mereka yang paling layak jadi raja huta (sekarang: kepala desa). Boleh saja ada marga Sihombing, Sinurat, Naingholan dan marga lain di sana. Tetapi mereka digolongkan sebagai "si sonduk hela" (menantu dari marga sinaga yang ada di huta tersebut).

Hingga kini, pengaruh marga sipukka huta (marga perintis kampung) masih dipandang penting. Dalam kontestasi politik seperti pemilu, pilkada hingga pilkades, para calon selalu memainkan peran ini dengan cara yang sama.

Tahun depan akan ada pilbup srentak di negeri ini. Samosir adalah salah satu kabupaten yang kebagian jatah mengganti bupati. Kini sudah mulai tampil beberapa calon bupati di sana.

Rapidin Simbolon menjadi yang terdepan sebagai incumbent. Tentu ia masih mengandalkan dukungan marga Simbolon yang mayoritas di Pangururan dan Ronggurnihuta.

Mangihut Sinaga, sebagai ketua persatuan marga Sinaga juga pasti mengandalkan dukungan marga sinaga yang berbasis di Hatoguan, Sinaga Uruk, dst. Tapi ia harus berjuang merebut hati marga Sinaga yang ternyata juga telah mendukung Juang Sinaga, wakilnya Rapidin. Ingat, Juang adalah andalan marga Sinaga di Hatoguan.

Satu calon lain yamg mencoba mengadu nasib jadi bupati adalah Vandiko Gultom, anak dari Ober Gultom. Tentu saja Vandiko mengharap dukungan marga-marga dari toga pandiangan di samosir, apalagi marga Gultom sudah sepakat mendukung Vandiko.

Pertanyaannya, masih efektifkah persatuan marga ini di pemilihan kepala daerah? Bisa iya, bisa tidak. Entah kebetulan atau bukan, nyatanya 2 bupati yang pernah menjabat sebagai bupati Samosir definitif selalu dari marga Simbolon. Mangindat Simbolon selama 2 periode awal, dan kini Rapidin Simbolon yang ingin 2 periode juga.

Cukupkah strategi marga? Tentu tidak. Kalau saja bisa diurutkan, maka untuk memenangkan pilbup di samosir, seorang cabup harus:
  1. Didukung persatuan Marga serumpun,
  2. Balgani puro-puro (banyak duitnya), dan
  3. Punya strategi mengambil hati masyarakat, disamping membagikan duit yang lebih besar dari calon lain.
Bila maega masih bisa dimainkan dengan konsep Dalihan Natolu (ikut marga pihak ibu, marga pihak istri, marga yang sama), maka duit tak mungkin berbohong.


Maka jangan heran bila pencalonan bupati samosir tahun depan akan dimenangkan oleh mereka yang punya duit dan rajin menghadiri ulaon adat.

Boleh jarang ke pesta adat, tetapi banyak membantu membangun tugu atau bak sinterklas yang memodali masyarakat yang berpesta. Merekalah yang memenangkan kontestasi. 

#SelamatMentambutPestaDemokrasiTahun2020 
#PilBupKabSamosir

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter