Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Negara Kekeluargaan



Partai oposan dirangkul, dijadikan menteri. Tentu, Partai pendukung sudah lebih duku kebagian. Anak-anaknya "para pengkritik" dan dipandang "berjasa untuk negeri" dijadikan menteri atau wakil menteri. Para pemegang saham besar di negeri diakomodasi dan dijadikan jadi "mitra muda" di istana. Kalau orangtuanya gak diberi jabatan, ya berilah jabayan kepada putra/putrinya sendiri.

NKRI adalah satu-satunya negara di dunia yang alergi kritik dan tak suka si tukang nyiyir. Keinginan si pengkritik pun lantas dibungkam dengan jabatan atau posisi di pemerintahan.

Itu terjadi saat ada gesekan sesikit di internal koalsisi. Lihatlah, pelukan Surya Paloh ke Sohibul Iman pun tuntas dengannpelukan Surya Paloh ke Jokowi dan sebutan sayang ke amegawati.

Ini lantas berarti, di kalangan elit tak akan ada lagi kericuhan politis. Semua kawan dan lawan sudah terakomodasi. Semua sudah beres. Tinggal berbagi waktu jadwal makan bersama.

Perang dan saling rebutan pengaruh justru terjadi di tengah, di level kelompok pro dan kontra pemerintah, yang mencoba mengais rejeki dengan harapan ada kucuran "profit" dari perwakilan mereka di elit.

*****
Harga-harga kebutuhan yang naik drastis, seperti iuran BPJS, cukai tembakau, listrik, tarif tol, pungutan pajak yang makin ganas di kalangan masyarakat menengah ke bawah dituntaskan menkeu dengan menaikkan gaji PNS yang dipandang sebagai representasi kaum menengah.

Bagaimana dengan kaum ekonomi lemah? Harga padi, sawit, karet, jeruk dan berbagai hasil pertanian tak ada yang menjamin akan mengalami kenaikan. Disaat yang sama dana desa bisa diterima desa fiktif, dan bantuan-bantuan kepada petani boleh dibisniskan para pejabat di daerah.

Maka, satu-satunya pekerjaan yang paling masuk akal di era pemerintahan Jokowi ini adalah menjadi PNS, TNI/Polri, dan tentu saja jadi gubernur, bupati/walikota, dan pasti jadi kepala desa. Kalau tak percaya, lihatlah hebohnya masyarakat yang ingin menjadi PNS. Ini dipandang sebagai satu-satunya pekerjaan yang asyik dan mendatangkan profit.

Untuk membungkam kritik kaum agamawan, pemerintah memberi hibah yang cukup besar. Ya, minimal mereka bisa berpesta dan melupakan derita umat beragama yang bekerja sebagai tukang beca, petani, buruh, dll. Paling mudah, memberi fasilitas kepada para pemimpin agama itu, atau membantu menggaji marbot, guru sekolah minggu, atau para sintua.

Lantas bagaimana bila banyak pengangguran? Tenang, Pemerintahan Jokowi akan menggaji para penganggur mulai bulan Februari 2020 mendatang.

Inilah yang disebut dengan pemerataan, minimal pemerataan keuntungan fiktif dari bisnis negara yang modalnya bersumber dari utang.

Kita selalu berbangga pada apa yang ditampilkan di televisi atau di media sosial yang mememang mempublish berdasarkan bayaran.

Pemerintah lantas berulang-ulang menyeru, "Kita semua satu keluarga dengan 17rb an pulau, 13rb an suku, dan berbagai agama. Negara kita memang tidak kaya, tapi mari kita bagi-bagi keuntungan ini dengan merata.

Soal utang itu hal biasa. Toh di tahun-tahun mendatang akan ada pemutihan, tentu setelah megara kita miskin dan tak berdaya. Para pendukung fanatik pun akan berkata kepada netizen yang suka kritis terhadap pemerintahan Jokowi, "Makanya kerja, supaya kaya (seperti kami).

#HidupNKRI 


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter