Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Pilbup 2020 Simalungun dan Peluang Besar Calon Independen

Pilbup 2020 Simalungun dan Peluang Besar Calon Independen
Pembagian Wilayah Kecamatan di Kabupaten Simalungun (Wikipedia)
Parpol merupakan jalan pintas terefisien untuk syarat pengajuan. Di Parpol lebih sedikit yang harus dilobi. Berbeda dengan calon perseorangan yang harus meminta KTP dari puluhan hingga ratusan ribu orang dengan cost of politic yang juga tak sedikit.

Artinya, menjadi bupati dari jalur independen tidaklah mudah. Ia harus memiliki dukungan penuh dari masyarakat sebelum mereka bertarung.

Pertanyaannya, benarkah calon independen berpeluang besar menang di Kabupaten Simalungun? Ya, jelas berpeluang. Faktanya Kabupaten Simalungun tak pernah mengalami perubahan arah politik yang cukup signifikan, sebab pemilih di Simalungun bukanlah konstituen ideologis partai tertentu. 


Peluang Besar Calon Independen

Jelas tak pernah ada satu partai yang selalu mendominasi di setiap Pemilu, apalagi Pilkada. Dalam perpolitikan nasional saat ini Partai bahkan sudah tak layak berbicara tentang ideologi seperti halnya Golkar, PDI(-P), PPP di masa Orde Baru.

Akibatnya, figur partai politik pun nyaris tak pernah yang layak untuk memimpin Kabupaten Simalungun. Fenomena ini menunjukkan betapa partai sudah mengalami krisis figur.

Lihatlah saat ini, menjelang Pilkada 2020 yang tinggal beberapa bulan lagi ini. Belum ada satu partai pun yang sudah pasti mengusung kadernya untuk maju ke Pilkada Kabupaten Simalungun 2020.

Semua parti masih meraba-raba. Mereka hanya duduk diam menunggu pelamar dengan cara merental figur dari luar partai mereka.

Apalagi masyarakat Simalungun juga sudah antipati terhadap figur dari partai. Alasannya sederhana, bupati dari Partai hanya akan menghasilkan pemimpin dengan kebijakan yang pro pada kepentingan partainya. Sementara kepentingan masyarakat hanya diberi porsi kecil.

Pilbup 2020 Simalungun dan Peluang Besar Calon Independen
Irjen. Pol. (Purn) Drs. Maruli Wagner Damanik, M.A.P. (#MWD) [DokPri/Facebook]

Irjen. Pol. (Purn) Drs. Maruli Wagner Damanik, M.A.P. 

Di titik inilah figur baru harus muncul di Simalungun. Keberanian Irjen. Pol. (Purn) Drs. Maruli Wagner Damanik, M.A.P. (#MWD) oleh karenanya layak mendapat acungan jempol dari masyarakat Simalungun.

Kehadiran #MWD sungguh mewarnai Pikada Simalungun 2020. Beberapa pengamat politik, juga dari berbagai simulasi yang dilakukan beberapa media, #MWD (independen) dan RHS (yang masih mencari patai pengusung) berpeluang memenangkan kontestasi 5 tahunan ini.

Namun, figur #MWD yang memiliki pengalaman di bidang birorkasi, sosok polisi bersih, dan aktivis di berbagai kegiatan sosial-pendidikan dan keagamaan tentu lebih berpeluang memimpin Simalungun menuju arah lebih baik. 

Mengapa demikian? Pertama, sebagai pemimpin dari jalur independen #MWD tidak memiliki beban politik terhadap partai. Kedua, pertanggungjawaban kinerjanya oleh karenanya bukan kepada partai, melainkan langsung kepada masyarakat, sehingga kebijakannya pun akan lebih fokus pada masyarakat. 


Ketokohan #MWD Sebagai Calon Perseorangan

Rasa penasaran masyarakat Simalungun akan figur yang menggantikan JR Saragih 5 tahun mendatang kini sedang memuncak. Secara positif, perasaan publik ini adalah peluang bagi para bakal calon dalam membangun cerita yang menggugah hati pemilih.

Melalui narasi dan wacana yang tepat, ma­syarakat Simalungun pun semakin terdorong untuk mempelajari sejauh mana kapasitas kandidat yang akan maju menjadi calon bupati Simalungun, termasuk #MWD. 

Modalitas sosial, ekonomi, kultur dan simbolisme yang melekat dengan diri cabup dipandang sebagai menjadi indikator penting baginya dalam mere­but simpati pemilih. Satu hal yag pasti, #MWD adalah pemimpin yang Pancasialis. 
Tak hanya itu, calon juga harus benar-benar membaca arus opini yang berkembang di masyarakat Simalungun saat ini.

#MWD adalah salah satu figur yang sesuai dengan kriteria di atas. Oleh sebagian masyarakat, #MWD dipandang punya harapan besar untuk memajukan Simalungun, karena ia punya komitmen pada visi dan misinya: "Datang untuk memberi, bukan untuk mengambil."

Sebagai bukti awal adalah 77rb-an FC-KTP (melebihi 45rb-an yang disyaratkan) yang telah terkumpul pada awal November 2019 lalu justru semakin memantapkan langkahnya maju sebagai calon independen atau jalur perseorangan.


Konklusi

Preseden lain pun bisa kita lihat dari dua kali pemilu, pilpres dan pilkada sebelumnya, tentang bagaimana figur ketokohan jauh lebih memengaruhi kemenangan dibanding kekuatan partai.

Buktinya, mayoritas anggota DPRD Kabupaten Simalungun yang terpilih pada 17 April 2019 lalu bukanlah figur politik dan bukan pula fungsionaris atau pengurus parpol, sebagaimana juga Jokowi yang terpilih sebagai presiden, Ridwan Kamil sebagai gubernur jabar, dll. De facto mereka ini terpilih dari jalur independen, kendati de iure mereka memakai perahu partai politik. 

Kabupaten Simalungun tentu akan mengakselerasi kondisi regional dan nasional di atas; dan bagi saya tampilnya #MWD sebagai calon independen tak lain adalah solusi terbaik bagi kemajuan Simalungun.

Pilbup kali ini merupakan kesempatan emas bagi masyarakat Simalungun, khususnya calon pemilih yang punya hak dan mewujudkan haknya itu dalam Pilbub Simalungun bulan Sepetember tahun ini.


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter