iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Seminari Jantung Gereja

Seminari Jantung Gereja
Kapel Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematang Siantar
Seminaris bukan saja diajar, dididik atau diperkaya kemampuan intelektualitasnya oleh para pembina Seminari, tetapi juga turut diterangi, dinilai dan disikapi tindak-tanduknya. Melalui proses belajar-mengajar di ruang kelas, Seminaris diajari berbagai aspek pengetahuan namun tetap memberi ruang bagi pertumbuhan sosial mereka di dalam komunitas asrama.

Melalui pengembangan bakat dan potensi di Seminari, juga melalu bimbingan pribadi dan refleksi, para Seminaris dibentuk menjadi pribadi yang tak pernah berhenti belajar menjadi Katolik yang baik. Konsekuensinya, keberhasilan seorang Seminaris sungguh terletak pada pemberian diri untuk dididik, dibimbing dan didampingi oleh para staf pengajar dan pembina Seminari menjadi pribadi yang matang secara intelektual, sosial, dan spiritual.
Sebagai sebuah keluarga, di Seminari, anak-anak muda itu sungguh diperlakukan sebagai anak sekaligus sebagai sahabat oleh para pastor, bruder, suster, dan guru mereka. Sungguh terjadi hubungan yang akrab antara pembina (sebagai orang tua) dan Seminaris (sebagai anak). Mereka saling bercanda, berbicara dari hati ke hati, bahkan para pembina itu selalu bersedia bila dimintain bantuan oleh Seminaris.

Di titik ini para pembina dan pengajar itu bukan saja menjadi orangtua, tetapi juga sekaligus sahabat bagi Seminaris. Di sisi lain, kolegialitas yang terjalin antara Direktur, Prefek, guru, staf dan Seminaris adalah simbol kesatuan Gereja (Yoh 17:11).

Tentu, karena para pendidik di Seminari adalah seorang Katolik yang sungguh mengalami dan menikmati kegembiraan panggilan mereka sebagai tenaga pendidik di Seminari. Kegembiaraan mereka itulah yang selanjutnya ditularkan kepada para Seminaris yang mereka didik.

Tak kalah pentingnya adalah peranan Uskup Agung Medan sebagai pimpinan tertinggi sekaligus bapa sejati mereka di dalam Kristus. Kasih sayangnya itu menjadi api semangat bagi para pendidik dan Seminaris .

Ketika Seminari tak lagi diminati hingga beberapa Seminari telah sekarat hingga mati, maka Gereja juga akan mati. Sebab hanya melalui Seminari lah tunas-tunas panggilan itu dipupuk, lewat pembinaan hidup rohani yang khas dan disiapkan untuk mengikuti Kristus Penebus dengan semangat rela berkorban dan hati yang jernih (Optatam Totius, OT art. 3a). Demi mencapai tujuan ini Gereja bahkan memberi pastor-pastor terbaik sebagai pemimpin, pembina sekaligus pendidik di Seminari.

Para pastor di Seminari biasanya memiliki bakat kepemimpinan yang penuh kebapaan, mampu kerjasama dengan para guru, dan bersinergi dengan para orang tua Seminaris. Bersama mereka guru dan orang tua, para pastor di Seminari menerapkan kurikulum pembinaan yang telah disesuaikan dengan usia para seminaris. Tujuannya ialah agar mentalitas dan perkembangan psikologis para seminaris itu sesuai dengan prinsip-prinsip psikologi yang sehat.

Para pembina dan pendidik juga menuntut para seminaris mampu menjalani program studi yang telah diatur sedemikian rupa, baik tuntutan kurikulum pemerintah dan terutama tuntutan kurikulum internal Seminari itu sendiri. Tujuannya agar mereka tetap dapat melanjutkan studinya di lain tempat bila karena satu dan lain hal mereka keluar dari Seminari Menengah (OT art. 3b).

Selama menjalani pendidikan di Seminari mereka sungguh dipersiapkan menjadi calon pastor yang harus belajar terlibat di tengah masyarakat, dan tidak hanya berkutat dengan umat sendiri. Hal yang sama juga dilakukan di Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematang Siantar (selanjutnya disingkat SMCS) sebagai salah satu Seminari Menengah di Indonesia.

#LusiusSinurat
#MemperhitungkanPanggilan
#SeminariJantungMisi


Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.