iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Hidup Yang Kekal

Hidup Yang Kekal
Bacaan: Luk 10:25-37: 

" Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat (AT) untuk mencobai Yesus (Y)...

AT: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
Y: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"

AT: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
Y: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."

Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus:

AT: "Dan siapakah sesamaku manusia?"

Y: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.

Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.

Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali."

Y: "Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"
AT: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." 

Y: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

*****
Penjelasan

(1)
Sebutan "Guru" sengaja dipakai Ahli Taurat dengan maksud ’melecehkan’ Yesus. Namun, apa hendak dikata, si ahli Taurat justru merasa malu dan mengakui ke-Guru-an Yesus, sebab jawaban yang ia inginkan sungguh sesuai dengan Taurat Musa. 

Ingat, sebagi seorang ahli Taurat ia pasti sudah tahu jawaban atas pertanyaannya. Ya, si ahli Taurat hanya ingin mencobai atau menguji kecerdasan Yesus sebagai Guru, Mesias dan Juruselamat.

Lantas siapa saja yang disebut dengan "Ahli Taurat"? Mereka adalah orang-orang yang secara khusus mempelajari, meneliti dan menafsir Taurat Musa. Pengetahuan dan penguasaaan mereka akan isi Taurat sungguh tak terbantahkan. Sayangnya pengetahuan mereka hanya keok hingga sewot oleh seorang ‘ahli Taurat’ asal Nasaret, yang tidak sekolah secara khusus mengenai Taurat.

(2)
Taurat itu antara lain memuat Dekalog (10 Perintah Allah) yang disertai penjelasannya. Ketaatan pada Taura adalah sebuah keharusan. Ulangan 30:10-14, misalnya menegaskan: “Hendaklah engkau mendengar suara Tuhan, Allahmu, dengan berpegang pada perintah dan ketetapanNya, yang tertulis dalam Kitab Taurat ini; dan hendaklah engkau berbalik kepada Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu…”

Maka tak heran ketika seorang ahli Taurat percaya bahwa prasyarat untuk memperoleh hidup kekal adalah dengan memahami Taurat dan melaksanakannya. Artinya, pemahaman mendahului pelaksanaannya.

Perkataan Musa, "Firman itu sangat dekat padamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu; hendaklah engkau melaksanaknnya" pun dipahami oleh ahli Taurat sebagai Sabda Pelengkap, atau Sabda versi Musa, karena tidak tertulis di 2 Loh Batu yang memuat 10 perintah Allah.

(3)
Dalam Luk 10:25-37 korban dideskripsikan sebagai seorang yang jatuh ke tangan penyamun. Ia dirampok, dipukuli, hingga ditinggalkan dalam kondisi sekarat. 

Ada 3 "pejabat" yang lewat dan melihat korban, namun dengan tiga tindakan berbeda:
  1. Seorang Imam. Ia melihat korban, tetapi justru lewat begitu saja.
  2. Seorang Lewi (keturunan imam). Ia melewatinya juga, bahkan hanya melihatnya dari seberang jalan.
  3. Seorang Samaria. Ia melihat, dan hatinya tergerak oleh belaskasihan. Ia pun memutuskan untuk menolong orang itu. 
Cara orang Samaria menolong orang sekarat itu: 
  • membalut luka-lukanya (P3K) dengan menyiraminya dengan minyak dan anggur (mahal/berharga), 
  • menaikkannya ke kuda (mengurangi kenyamanan & keamanannya; jatah 1 orang penunggang digunakan oleh 2 orang), 
  • membawanya ke penginapan dan merawatnya serta membayar biaya penginapan dan perawatan. 
(4)
Pertanyaan Yesus kepada ahli Taurat "Dari ketiga tokoh di atas, siapakah sesamamu manusia?" yang diikuti jawaban si ahli taurat, "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." merupakan simpul penutup dari perumpamaan ini.

Lihat, si Ahli Taurat tak menggunakan nama "Orang Samaria", melainkan Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Hal ini bukan tanpa sebab, 

Bagi orang Yahudi, orang Samaria adalah warga kelas tiga, bukan keturunan Abraham. Mereka layak dimusuhi dan dibenci oleh orang Yahudi. 

Itu sebabnya, imam dan keturunan Lewi dalam perumpamaan di atas menganggap diri tak mesti menolong si korban. Justru orang ketiga, orang Samaria lah yang melihatnya, turun tangan dan segera menolongnya.

"Orang Samaria yang murah hati" adalah mereka yang yang bersedia menolong orang lain, bahkan mereka yang samasekali tidak mereka kenal. Mereka adalah orang-orang tanpa pamrih.


Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.