Entri yang Diunggulkan

Kita Sedang Memproduksi Diri Kita Sendiri

Sejalan dengan Michel Foucault, di dunia postmodern, orang tak ingin menemukan dirinya sendiri, rahasia-rahasianya dan kebenarannya yang tersembunyi. Orang justru merasa diwajibkan untuk menciptakan dirinya sendiri. Melalui kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi, relasi antar manusia semakin…

Diri yang Tersesat

Diri yang Tersesat
Ilustrasi: Lukisan Theophilos Hatzimihail
Diri yang tersesat tampil dalam bentuk disorientasi, identitas dan gaya (hidup), dan identitas dan karakter. Mari kita lihat satu per satu.


1. Disorientasi

Saat ini semakin banyak orang mengalami disorientasi, karena mereka tak sungguh mengenal siapa diri kita secara holistik.

Diri dipahami bediri tunggal dan tak berkaitan dengan genetik, masa lalu, orientasi seksual, perasaan-perasaan, citra, tubuh, apa yang dikerjakan, apa yang dimiliki dan diri sebagaimana yang kita kenal.


2. Identitas dan Gaya (hidup)

Sosiologi memahami hidup sebagai sesatu yang dibangun dari faktor-faktor, seperti jenis kelamin, peran-peran sosial, status sosio-ekonomi, tingkat pendidikan dan kesukuan.

Identitas seseorang oleh karenanya adalah "cerita" yang ia rangkai dari peran-peran yang ia isi, orang-orang yang ia kenal, perhatian yang ia terima, hal-hal yang ia miliki, dan pemiikirannya tentang dirinya dalam kaitannya dengan masyarakat.

Identitas diri dipengaruhi secara signifikan oleh:

  1. hubungan-hubungan antarpribadi (mulai dari keluarga hingga masyarakat sekitar). Hubungan ini akan menentukan apakan kita "bernilai atau tidak bernilai" dan "apa dasarnya bahwa kita bernilai atau tidak bernilai".
  2. tempat kerja dan masyarakat yang lebih luas yang menghantar kita pada peran dan makna (hidup).
  3. nilai-nilai dan kepercayaan yang menjadi pegangan kita ketika menjalani kehidupan.

Sementara gaya adalah bisnis penampilan dengan cara mentransformasi/menyembunyikan pribadi seseorang.

Sesungguhnya gaya merupakan suatu tindakan kanibalisasi, karena seseorang mengambil tampilan (milik) dari orang lain demi menciptakan citra kita sendiri, sekalipun citra itu samasekali tak berkaitan dengan siapa kita sesungguhnya. Hanya saja seperti itulah yang kita hendendaki.

Gaya ini selanjutnya melahirkan gaya hidup yang tampil dalam bentuk aroma wangi, bagus, mahal, agresif (mengisyaratkan ketidakpedulian pada adat istiadat) dan konservatif (mengisyaratkan ketaatan)


3. Identitas dan Karakter
 
Identitas terbentuk dari hal-hal yang mewajibkan seseorang untuk terus menerus terkungkung dalam identitas dirinya yang dulu.

Identitas itu ibara janji (mulai dari janji spontan hingga janji seumur hidup dalam perkawinan). Janji mengikat orang yang berjanji untuk menjadi orang yang sama  di masa mendatang.

Konsekuensinya, pengingkaran janji terjadi karena masa depan belum terbuka dihadapan orang yang mengucapkannya, atau karena mereka mampu melihat apa yang sesungguhnya dituntut darinya (untuk mewujudkan janjinya).

Sebaliknya, orang yang memelihara janjinya adalah mereka yang bersedia menempa identitasnya. Sebab di mana janji dipegang, di sana ada hubungan moral yang terpelihara antar orang yang membuat janji dengan orang yang menerima janji.

Kini prinsip moral di atas memang sudah semakin terancam. hari-hari ini prinsip moral semakin hilang. Akibatnya lahirlah masyarakat yang hidupnya penuh kehampaan, sebab orang justru taat pada hal-hal yang tidak dipaksakan.


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter