iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Melukis Hidup

Melukis Hidup
Sebagai pengagum keindahan, saya selalu tertarik dengan lukisan/pahatan, khususnya goresan-goresan indah dari para seniman masyur abad pertengahan. 
Para pelukis tampaknya tak hanya melukis atau memahat. Mereka sungguh mampu mempresentasikan apa yang terjadi, baik saat itu, juga di masa silam, bahkan seakan bernubuat tentang masa depan jaman.

Memupuk Potensi Ilahi 

Michael Angelo misalnya, yang memiliki kekhasan di tiap karya mereka. Sesuai dengan namanya, Michael Angelo, menampilkan wajah-wajah manusia yang terkadang tampil bak malaikat. 

Entah itu nyata atau tidak, tapi patung dan goresan di langit-langit kapel Sixtina Vatikan ini sungguh menyiratkan bahwa keagungan sang Ilahi bisa tampil atau ditampilkan di bumi. Bersama dengan mahakarya mereka, 

Michael Angelo seakan menterjemahkan karya penyelamatan Allah di dunia. Ini tak saja soal kehadiran Yesus, Anak Allah yang rela menjadi manusia seperti kita. 

Michael dan Angelo rupanya kembali menegaskan pesan Allah kepada manusia sejak ia diciptakan Allah. Yang saya maksud adalah anugerah "menjadi citra/gambar Allah". Ya setiap manusia adalah citra kehadiran Allah yang nyata di dunia.

Menghadirkan Allah

Persoalannya adalah usaha dari tiap pribadi agar mampu menghadirkan dimensi "kehadiran Allah" itu dalam hidupnya sehari-hari. Di sinilah kehebatan seorang Rafael dalam menghadirkan sosok ilahi dari tiap pribadi manusia di atas kanvasnya. 

Sisi natural dengan kepolosan ekspresi ia tampilkan sebagai pintu masuk untuk mendalami makna hidup. Manusia memang harus berani kembali ke titik hampa (emptyness, nihil) untuk merenovasi hidupnya yang rusak oleh hantaman ilusi tiap jamannya. 

Bukankah hidup kita di era digital ini telah dibungkus oleh berbagai produk teknologi - yang notabene kita anggap sebagai simbol kemegahan Allah? Hari-hari ini orang dengan gamblang berani mendefinisikan dirinya sebagai "arena pertarungan produk teknologi". 

Tiap orang seakan mengatakan, "aku adalah apa yang kumiliki" (Habeo ergo sum). Tiap orang lantas berlomba-lomba menggunakan produk-produk termutakhir, tanpa pernah berpikir bahwa produk itu tak akan pernah melekat-erat dalam hidupnya. 

Sejalan dengan sang Maestro, Michael, Angelo, dan Rafael mengajak kita untuk berusaha menghadirkan kembali sisi keilahian diri kita sebagai "anak-anak Allah".

Memahami Misteri 

Realitas yang kita alami memang mau tak mau menyeret kita untuk bergelut dengan berbagai kemelut. Sisi misteri hidup dengan gamblang tampil dalam abstraksi tiap pikiran, perkataaan dan tindakan kita. Picasso, dalam mahakarya menampilkan sisi ini dalam lukisan abstraknya. 

Mahakarya Picasso sungguh mengungkap misteri keseharian hidup kita: Bukankah pribadi seseorang tak akan pernah dapat kita telusuri hingga ke kedalamannya? 

Agar hidup tak lantas melulu abstrak, orang perlu mewujudnyatakan segala hal baik yang ada dalam dirinya, termasuk mengasah kemampuan intelektual dan potensi reflektif untuk memahami siapakah Allah itu dan bagaimana sesungguhnya ia menghadirkan diriNya dalam hidup kita. 

Van Gogh, lewat mahakaryanya membantu kita memahami misteri semesta. Memang tak banyak yang tampil dalam lukisan-lukisan Van Gogh, tetapi begitu banyak "yang hadir" dibalik goresan abstraknya itu.

Begitulah Van Gogh mengajarkan kita tentang bagaimana Allah hadir dalam semesta: Ia tak dapat diraih, tak dapat didefinisikan dengan akal budi sekalipun.

Kembali Ke Hakikat Semula 

Bersama dengan itu, kita diajak untuk terus-menerus menelanjangi diri kita dan membiarkan kepolosan hidup di hadapan Allah, agar Allah mengisinya. Hal inilah yang tampak dihadirkan Titian dalam lukisannya yang tampak realistis dan gamblang. 

Titian sungguh mampu menggambarkan realitas keseharian kita. Titian dengan genit menampilkan ketelanjangan tubuh untuk menggugah kesadaran diri kita: apa dan siapa kita sesungguhnya? Manusia memang terlahir telanjang pada permulaan hidupnya; dan akan telanjang pula di penghujung nyawanya. 

Sebagaimana Titian, Donatello juga mengamini pentingnya ketelanjangan ekspresif hidup dalam pahatan dan goresannya. Bagi Donatello, dari ketelanjangan itu akan lahir ekspresi anggun sang Ilahi.

lusius-sinurat

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.