@5iu5 luciusinurat@gmail.com sinurat_lucius@yahoo.com luciusinurat@outlook.com

"Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."

7.10.12

Pelayan Sejati

17.56

Bagikan
Seorang pelayan sejati bukanlah orang yang pertama-tama menguasai isi (teks) Kitab Suci dan tafsirnya namun ia samasekali tidak mengimaninya. 

Pelayan sejati juga bukanlah orang yang tahu bahwa dalam Kitab Suci Perjanjian Lama (Taurat) atau apa saja yang termaktub dalam kitab Perjanjian Baru atau seluruh tindakan Yesus yang tercatat di dalamnya. 

Pelayan sejati ialah orang yang berpikir, bertutur dan berlaku kata dari kerendahan hatinya. Pendek kata, pelayan sejati ialah mereka yang melayani sesama sebagaimana Yesus melayani (Serve like Jesus). 

Pertanyaannya adalah mungkinkah kita bisa melayani seperti Yesus di jaman serba digital ini ? Sepertinya amat sangat mungkin deh, apalagi teknologi komunikasi dengan hasil produknya telah berhasil mempermudah kita dalam melayani sesama. Tapi benarkah ? 

Mari kita lihat sejenak apa yang terjadi di jaman ini dan mari kita bersama-sama menemukan jalan keluar untuk melayani sesama dengan cara yang sejati :

Pergeseran Paradigma - Dulu dan Kini 
  1. KOMUNIKASI : dari komunikasi yang bersifat personal (diri yang sesungguhnya), lokal (terjangkau secara fisik), dan orisinal (apa adanya) menuju komunikasi yang bersifat komunal (diri parsial), global (tak terbatas pada ruang dan waktu), dan banal (abstrak, dimediasi monitor‐monitor tak bernyawa). 
  2. PUSAT PERTEMUAN - Tadinya adalah alun‐alun, gereja, dan pasar tradisional, kini resto dan cafĂ©, gedung pertunjukan, dan mall / plaza atau pasar‐pasar modern lainnya. 
  3. INTERAKSI - Sebelumnya terjalin secara mendalam (komunikasi = interaksi), membatin dan memandang pertemuan fisik sebagai sarana yang sangat penting (sebuah kebutuhan), menuju pandangan bahwa komunikasi itu bersifat artifisial (interaksi = transaksi) dan memandang pertemuan fisik sebagai sesuatu yang tidak penting (pragmatis; bukan kebutuhan tapi keinginan). 
  4. MAKNA HIDUP - Dulu dipandang sebagai sesuatu yang menyatu dengan pencipta dan hadir dalam keharmonisan dengan semesta dan kebersamaan dengan sesama; sementara kini manusia, pencipta adalah dua elemen terpisah dan semesta hanyalah sarana untuk memenuhi kebutuhan, dan relasi dengan sesama berlangsung pragmatis, sinis dan egois. 
  5. MAKNA CINTA - Kalau dulu cinta dipahami sebagai tindakan (nyata, bukan sekedar kata), sarana altruis (untuk membahagiakan sesama / mempromosikan orang lain) dan sebagai anugerah gratis dari Allah (maka harus dibagikan gratis kepada sesama), maka kini cinta dipahami bagai kabut (abstrak, tak berwujud), sarana egosentris (untuk menerima dari yang lain), dan media untuk menuntut (kalau enggak dapat di satu orang ya cari orang lain dong). 
  6. SEMANGAT JUANG - Di jaman dulu semangat juang sangat tinggi sekaligus toleran bagi yang lain, ada intensi mendalam dan sadar akan keterbatasan, dan semangat juang berujung pada ungkapan syukur; namun kini orang lebih rentan dan mudah menyerah, tak punya kedalaman iman dan pengalaman, tak sadar keterbatasannya karena ada IPTEK sebagai tenaga kerja utama, dan tak ada ungkapan syukur karena manusia tak lebih dari budak teknologi (otomaton) yang menuntaskan kemalasannya. 
  7. SPIRITUALITAS - Dulu orang memiliki spiritualitas asketik (memelihara passion, rasa takut), membentengi diri dari pengaruh dosa (mensucikan tubuh, mengontrol hidup dengan ketat), dan orientasi hidup terarah pada akhirat (maka, ada tolok ukur tentang hidup ideal); tetapi kini orang lebih menitikberaktan pada disiplin (kenikmatan, ketakutan adalah implikasi kesungguhan), benteng diri lahir dari intensitas relasi dan keharuan seni (tubuh dipandang sebagai media komunikatif dan eksploratif, mengontrol hidup lewat keterlibatan), dan otrientasi hidup terarah pada here and now (maka, ukuran kesucian ada pada apa yang kita lakukan). 

Pelayanan Sejati dan Kharakteristiknya
Pelayanan sejati selalu memiliki karakhter berikut ini :
  1. Bersumber dari Hati - Yesus harus memberi teladan tentang pelayanan sejati dan kerendahan hati (Yoh 13:12-15[1]). Yesus memberi definisi baru tentang kebesaran sejati (Lukas 22:24-26[2]). 
  2. Memiliki Otoritas dalam diri pelakuknya - Otoritasnya bersifat fungsional, bukan otoritas berdasarkan status. Otoritas yang tidak terdapat dalam kedudukan, gelar atau status, melainkan dalam tindakan nyata! Otoritasnya bernuansa kerendahan hati (Yakobus 4:6[3]). 
  3. Berorientasi pada kerendahan hati, bukan pada keinginan daging - Keinginan daging antara lain melayani untuk diperhatikan orang : daging akan meratap bila diri kita harus melayani, serentak menjerit melawan pelayanan yang tersembunyi. Keinginan daging berusaha mendesak kita untuk memperoleh kehormatan dan penghargaan. 
Dalam pelayanan sejati, seseorang harus dengan keras menolak untuk mengalah pada hawa nafsu daging atau harus berani “menyalibkan kecongkakan dan kesombongan dirinya” (I Yoh 2:16-17[4]).

Pelayanan Sejati Versus Pelayanan Semu
Ada beberapa perbedaan antara pelayanan semu dan sejati :
Pelayanan Semu :
  1. Terpengaruh oleh “rencana yang hebat“. 
  2. Seseorang suka melayani, teristimewa bila pelayanan itu besar dan hebat. 
  3. Bersifat sementara. 
  4. Kalau ada proyek/tugas khusus yang harus dikerjakan, ia melayani. 
  5. Usai melayani maka ia beristirahat dengan senang. 
  6. Menuntut pahala lahiriah. 
  7. Ia perlu mengetahui apakah orang-orang melihat dan menghargai usahanya. 
  8. Ia mencari tepuk tangan manusia. 
  9. Ia menunggu untuk melihat apakah orang yang dilayani itu akan membalas dengan melayani dia. 
  10. Menentukan dan memilih siapa yang akan dilayani : kadang-kadang orang kaya dan berkuasa dilayani sebab itu pasti mendatangkan keuntungan; dan kadang-kadang orang yang miskin dilayani untuk menjaga citra kerendahan hati. 
  11. Dipengaruhi oleh suasana hati. 
  12. Ia hanya bisa melayani bila ada “perasaan mood“ untuk melayani (“digerakkan oleh Roh“, katanya, padahal “angin-anginan“/tidak stabil). 
  13. Kesehatan yang terganggu, adanya masalah dan tidur yang kurang akan menguasai keinginannya untuk melayani. 
  14. Melayani dengan rendah hati oleh karena memang diperlukan. 
  15. Menimbulkan keretakan dalam gereja (meruntuhkan gereja), karena berpusat pada diri sendiri. 
  16. Akibat yang ditimbulkand ari pelayanan ini ialah orang lain berhutang kepada kita dan pelayanan ini menjadi salah satu bentuk manipulasi yang paling licik dan merusak.
  17. Cara inilah yang mengakibatkan perpecahan dalam (tubuh) gereja. 

Pelayanan Sejati
  1. Tidak membedakan mana pelayanan yang kecil dan mana pelyanan yang besar.
  2. Tanpa pandang bulu ia menyambut setiap kesempatan untuk melayani.
  3. Merupakan suatu gaya hidup. Pelayanan ini dilakukan karena pola hidup yang sudah mendarah daging.
  4. Timbulnya secara spontan untuk memenuhi keperluan sesama manusia.
  5. bukanlah sesuatu yang kita buat atau tampilkan, melainkan itulah gaya hidup kita.
  6. Merasa puas meskipun tidak diperhatikan oleh orang.
  7. Ia merasa sudah cukup bila Allah menyatakan kesenanganNya.
  8. Kesukaannya hanya untuk melayani (Lukas 17:10[5]) : Jika semua pelayan kita dilakukan di depan orang lain maka kita ini menjadi orang yang dangkal.
  9. Ketersembunyian merupakan penyangkalan keadaan daging dan bisa menghancurkan kesombongan.
  10. Melayani tanpa pandang bulu (Yakobus 2:1-9[6]).
  11. Ia tahu bahwa “perasaan untuk melayani“ sering bisa menghambat yang sejati.
  12. Ia tidak dikendalikan perasaan tapi mentertibkannya .
  13. Ia rela memaksa diri untuk melayani.
  14. Ia menaklukkan dirinya supaya taat kepada Allah dan rela menyangkal diri serta kedagingannya (I Korintus 9:27[7], II Timotius 4:2[8]).
  15. Dilakukan dengan tenang dan sederhana namun menyasar pada kebutuhan orang lain : tidak seorangpun diwajibkan untuk membalas pelayanannya.
  16. Memiliki misi menarik, menyembuhkan dan membangun.
  17. Hasil dari pelayanan sejati adalah kesatuan gereja dan masyarakat.

Pelayanan Sejati di Jaman Penuh Ilusi 
Lantas apa yang harus kita miliki dalam pelayanan kita – di saat berhadapan dengan situasi di atas? Berhadapan dengan era Globalisasi ini, sebagai generasi penerus bangsa dan gereja, kaum muda khususnya hendaklah bercermin dari Yesus. Dari Yesus kita bisa belajar membangun mentalitas berikut ini:
  1. INOVATIF : Yesus tak hanya mengajarkan Taurat (ajaran resmi, hukum, aturan dan sejenisnya), tetapi juga melengkapi, memba(ha)rui, dan melengkapi Taurat dengan cara mengembalikan makna Taurat yang sesungguhnya : pembangunan hidup dalam cinta kasih. 
  2. ORISINAL : Yesus sungguh tampil menjadi dirinya sendiri. Ia tak terpengaruh dan tergoda oleh apapun. Ia setia membabat habis segala yang merusak hidup manusia, yakni penyakit dan penderitaan. Hidupnya hanyalah untuk menyampaikan hati, keramahan, dan kebaikan Allah, karena Allah menyertai Dia sehingga melalui Dia Allah memancarkan kekuatan dan cintaNya. 
  3. KREATIF : Ia tampil lewat pengajaran yang berwibawa, pergaulan yang melegakan, serta lewat doa dan mukjizat yang ia lakukan. HidupNya melimpah karena Ia senantiasa bersyukur dan selalu menjadi diriNya sendiri. Ia betah pada dirinya sendiri dan membiarkan kegembiraan dan ketakuatan masuk ke dalam hidupNya. Ia mengembangkan konsep kerajaan ideal di dunia, yakni model Kerajaan Allah. 
  4. INSPIRATIF : Kehadiran Yesus di tengah manusia mengilhami orang lain untuk mengikutiNya. Mengikuti berarti: pertama, bersatu denganNya, berhati dan berjiwa seperti Yesus dan memperhatikan kerajaan cinta; dan kedua, bersatu denganNya dalam jalur persatuan dengan sesama: bertemu dan berbicara dengan rohNya; ketiga, menarik rohNya, menerima dan untuk selanjutnya meneruskannya kepada orang lain; dan keempat, aktual dan kontkestual seperti Yesus, mengaitkan diri dengan hidup sehari‐hari, dalam tegangan antara yang ideal dan realistis. Tak heran apabila ia sungguh menjadi inspirator yang membangun jalan, kebenaran, dan hidup bagi pengikutNya. 
  5. KHARISMATIS : HidupNya tak sekedar ikut arus. Ia berani hidup di luar hakNya, di luar kebiasaan yang ada, serta di luar pendapat dan pandangan umum. Bukan hanya orang Yahudi, orang non‐Yahudi pun mendapat perhatian yang sama dariNya. 
  6. EKSPLORATIF : Yesus memiliki kekhasan yang unik. Perspektifnya luas, sehingga Ia tidak pernah takut menghadapi tantangan dan hambatan dalam hidupNya. Tentu saja bukan karena Ia adalah alumni universitas terkemuka, akan tetapi murni karena Ia dianugerahi Allah pengetahuan yang sungguh dahsyat. Pendeknya, 100% potensi yang dimiliki Yesus berasal dari Allah. Tak mengherankan bila dalam pengajaranNya, Yesus memiliki sasaran yang jelas, komitmen yang kuat, kemampuan berkomunikasi yang mumpuni, dan kemauan untuk terus‐menerus belajar (learning ability). 
  7. PROGRESSIF : Yesus memiliki sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan manusia. Ia berpikir panjang (apa yang akan terjadi dengan dunia di masa mendatang. Sudut pandang ini tampil dalama perkataanNya yang tajam, menyerangdan meluluhkan segala bentuk kejahatan (yang mengakibatkan penderitaan), juga dalam karya penyembuhan yang Ia lakukan. Ia tak hanya memikirkan masa sekarang, tapi juga masa yang akan datang, termasuk hidup sesudah mati. 

_______

[1] Yoh 13:12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Yoh 13:13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Yoh 13:14 Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; Yoh 13:15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. 

[2] Luk 22:24 Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka. Luk 22:25 Yesus berkata kepada mereka: "Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Luk 22:26 Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.

[3] Yak 4:6 Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."

[4] 1 Yoh 2:16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. 1yoh 2:17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

[5] Luk 17:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

[6] Yak 2:1 Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka. Yak 2:2 Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, Yak 2:3 dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: "Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!", Yak 2:4 bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat? Yak 2:5 Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia? Yak 2:6 Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang menyeret kamu ke pengadilan? Yak 2:7 Bukankah mereka yang menghujat Nama yang mulia, yang oleh-Nya kamu menjadi milik Allah? Yak 2:8 Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri", kamu berbuat baik. Yak 2:9 Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.

[7] 1 Kor 9:7 Siapakah yang pernah turut dalam peperangan atas biayanya sendiri? Siapakah yang menanami kebun anggur dan tidak memakan buahnya? Atau siapakah yang menggembalakan kawanan domba dan yang tidak minum susu domba itu? 

[8] 2 Tim 4:2Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.


*** Diberikan pada Rekoleksi Kelompok Doa Paroki Pandu-Bandung, di Semianri Tinggi Fermentum, Minggu, 23 Sept 2012 

0 Komentar:

Poskan Komentar

luciusinurat@gmail.com