iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Ritus Perkawinan Adat Batak Toba

Ritus Perkawinan Adat Batak Toba

Bagian ini memuat gambaran umum perkawinan adat dalam kebudayaan Batak Toba. Di awal bagian ini akan ditampilkan secara singkat mengenai kehidupan sosial-masyarakat budaya Batak Toba.

Perkenalan dengan kebudayaan Batak Toba ini menjadi pintu masuk bagi penulis untuk secara khusus mendalami upacara atau ritus perkawinan yang ada di dalamnya. Hal ini dikedepankan mengingat bagian ini menjadi fokus awal untuk membuka cakrawala pemikiran antropologis dari perkawinan adat Batak itu sendiri.

Dan, cakrawala pemikiran antropologis ini penting bagi cakrawala pemikiran teologis-liturgis berkat pertemuan kebudayaan Batak Toba dengan Kristianisme.

Pada bagian ini mencakup tahapan perkawinan adat dan ritus perkawinan adat Batak Toba. Dalam adat Batak Toba, penyatuan dua orang dari anggota masyarakat melalui perkawinan tak bisa dilepaskan dari kepentingan kelompok masyarakat bersangkutan.

Demikianlah keseluruhan rangkaian ritus perkawinan adat batak-toba mengiyakan pentingnya peran masyarakat, bahkan ia tak dapat dipisahkan dari peran masyarakat. Inilah yang terlihat dari di namika rangkaian ritus perkawinan adat batak-toba, sebagaimana akan diuraikan pada bagian ini.

Sebelum masuk pada pokok persoalan itu, penulis terlebih dahulu akan memaparkan secara sepintas mengenai kultur batak toba dengan memusatkan perhatian pada unsur-unsur yang terdapat di dalamnya, khususnya unsur-unsur yang berkaitan dengan ritus perkawinan.


Dimensi religius perkawinan adat Batak Toba

Bagi orang Batak, kelompok kekerabatan terdiri dari seluruh anggota keluarga, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Roh mereka yang sudah meninggal dianggap masih “hidup” dalam bentuk begu di dunia tengah (banua tonga), sehingga tetap ada bagi dunia kita yang fana ini

Upacara khusus perlu diadakan untuk memasukkan roh anggota keluarga yang sudah meninggal kedalam golongan sombaon, roh alam yang yang tinggi martabatnya, yang diwujudkan dalam bentuk patung pahatan kayu ataupun batu.

Sombaon ialah roh alam yang yang tinggi martabatnya. Sumangot = roh (sumangot ni ompu, roh nenek moyang), semangat (JP. Sarumpaet, 1994:258-264).

Patung dari batu (togu, tugu), yang rupanya khusus didirikan untuk tokoh agung itu, diberi tempat di daerah yang letaknya di atas desa, atau dekat mata air yang membawa air tawar dan mengatur pengairan sawah, sehingga sombaon tersebut senantiasa menjamin agar semua penduduk desa tetap hidup makmur.

Roh leluhur ini dapat dilantik ke derajat yang lebih tinggi menjadi yaitu sumangot (roh nenek moyang) dengan melakukan upacara mangongkal holi.


Kurban dan Ritual Keagamaan

Sebagian besar ritual atau upacara keagamaan bertujuan menghormati roh-roh leluhur dan terbatas pada lingkungan keluarga saja. Laki-laki tertua lah yang mempunyai tugas memimpin upacara, tanpa diperlukan seorang datu atau guru yang berfungsi sebagai imam.

Bila malapetaka menimpa sebagian besar masyarakat, sebuah upacara luar biasa dilakukan secara besar-besaran, yang penyelenggaraannya dipimpin datu, dan dinamakan horja bius.


Pengaruh Agama Kristen

Agama Kristen turut mempengaruhi kehidupan masyarakat Batak-Toba. Bagaimana tidak, melalui pertemuan kedua agama yang berbeda itu kita bisa menemukan adanya usaha ke arah inkulturasi.

Dalam hal tarombo (silsilah), misalnya, ada orang Batak yang berhasil membaurkan kepercayaan asli mengenai silsilah ini dengan kepercayaan agama Kristen: Raja Ihat Manisia dimasukkan ke dalam keturunan Daud, Ishak, Abraham, Nuh, Adam dan Hawa.

Memang sih secara nyata Injil baru memasuki tanah Batak sejak tahun 1861 oleh para penginjil dari Barat, baik dari Inggris, Amerika, Belanda; dan yang paling berpengaruh adalah pendeta I. L. Nommensen, seorang penginjil Lutheran dari Jerman (Bdk. John B. Pasaribu, 2002: 10-12).


Poko Pembahasan:
Ritus Perkawinan Adat Batak Toba
  1. Rangkaian Upacara Perkawinan Adat
  2. Peran Subyek dan Obyek Perkawinan Adat
  3. Bentuk dan Sifat Perkawinan Adat Batak Toba

Bacaan:
  • JP. Sarumpaet, Kamus Batak-Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga, 1994.
  • John B. Pasaribu, Pengaruh Injil dalam Adat Batak. Jakarta: Penerbit Papas Sinar Sinanti, 2002
  • TM. Sihombing, Jambar Hata Dongan tu Ulaon Adat (cet.ke-3). Medan: Tulus Jaya, 1989.
  • Arnold van Gennep, The Rites of Passage. London & Henley: Routledge & Kegan Paul, 1965.
  • SHW. Sianipar DL, Dalihan Na Tolu. edisi I. Medan.

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.