Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Simbol-simbol Perkawinan Adat Batak Toba Lainnya

"Upacara Perkawinan Adat Batak Toba" 
Febri Sinurat & Kim Young Feel
Cimahi, 14 Mei 2011 | Foto: Lusius Sinurat
Berikut adalah simbol-simbol penting lainnya yang terdapat dalam ritus perkawinan adat Batak Toba.

1) Boras Si Pir Ni Tondi

Boras (beras) adalah bagian yang harus ada dalam ritus perkawinan adat Batak Toba. 

Sebagaimana kita ketahui, beras merupakan komoditi sangat penting bagi kehidupan masyarakat agraris seperti masyarakat Batak Toba atau masyarakat dari kebudayaan lain di Indonesia. 

Sedemikian pentingnya beras itu sehingga ia dianggap sebagai barang yang tidak boleh diperlakukan secara sembrono, bukan saja karena ia dianggap mengandung tondi dengan kekuatan magis tertentu, tetapi pertama-tama karena nilai ekonominya untuk memenuhi kebutuhan fisik adalah sangat tinggi [1] 

Beras yang digunakan dalam dalam adat disebut sebagai “boras si pir ni tondi”[2] atau “beras perlambang kesehatan”, yakni beras untuk menepungtawari pihak tertentu, dalam hal ini, menepungtawari kedua mempelai. 

Apabila jaman dahulu beras dianggap memiliki kekuatan magis untuk menguatkan tondi dari orang yang menerimanya, maka dewasa ini, berkat pengaruh agama Kristen, beras hanya digunakan sebagai simbol atau tanda permohonan kepada Tuhan agar Ia menguatkan iman orang yang menerima beras itu.


Demikian juga, tindakan menepungtawari kedua mempelai dengan beras merupakan simbol atau tanda syukur kepada Tuhan atas perlindungan dan bimbinganNya. Hal yang sama juga berlaku bagi pemberian beras dari parboru kepada borunya pada saat upacara perkawinan. 

Pemberian itu adalah tanda syukur atas karunia sukacita besar yang Ia berikan, serta tanda doa agar rumah tangga yang akan mereka bangun diberkati Tuhan dengan rejeki berlimpah bagaikan butir-butir beras yang diberikan. Pemberian beras itu tentu saja diiringi dengan ungkapan-ungkapan tradisional yang sudah dilandaskan pada permohonan kepada Tuhan.[3] 

Dalam ritus perkawinan adat, mereka yang membawa beras adalah: hulahula, Tulang, semua udangan pihak parboru, dan dongan sahuta.[4] Maka, bila melihat seseorang membawa beras, maka kita tahu kedudukannya dalam ritual adat tersebut.


Boras si pir ni tondi dalam ritus perkawinan adalah sebagai pemberian berkat (anugerah) kepada hulahula dan lambang kesatuan jiwa dan badan, dengan kata lain, sebagai tanda syukur kepada Tuhan atas perlindungan dan bimbinganNya, atau atas segala berkat dan karunia yang diberikanTuhan kepada kita anak-anaknya.
__________

[1] John Pasaribu, op. cit., hlm. 71. 

[2]  Beras dalam dalam jumlah yang kecil (sedikit) disebut si pir ni tondi; jika dalam dalam jumlah yang sedang disebut juhal. 

[3]  John Pasaribu, loc. cit. 

[4]  SWH. Sianipar, DL., Tuho Parngoluon, Ruhut ni Adat, Poda ni Uhum, dan Pangalaho ni Padan Dalihan Natolu. Medan: CV. Pustaka Gama, 2001, hlm. 305-306. 


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter