Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Pertobatan Zakheus (Luk 9:1-11)

I. Situasi Dosa 

Ilustrasi: internet
Sumber atau Potensi yang kerap kita jadikan kambing hitam penyebab dosa kita (demi sebuah Comfort Zone) antara lain :
  1. Pekerjaan (Cf. Zakheus adalah seorang Pemungut Cukai). Biasanya segala pekerjaan yang berkaitan dengan uang (transaksi kas) atau pekerjaan lain yang dikategorikan “tempat basah”, misalnya Gayus Tambunan di Perpajakan, atau Malinda di Bank Perkreditan kerap kita jadikan sebagai alasan mengapa kita jatuh dalam dosa. Misalnya orang mengatakan di tempat-tempat kerja seperti itu godaannya sangat besar. Sementara tuntutan akan kesejahteraan / kemakmuran diri dan keluarga juga tinggi. 
  2. Pandangan sosial (orang lain) atas pekerjaan tersebut. Latarbelakang Sosial-Ekonomi (Cf. Lazarus orang Kaya. Orang yang keadaan ekonominya hebat seringkali jatuh dalam godaan dosa. Misalnya dengan membangun filosofi “dengan kekayaanku apa saja bisa kubeli dan siapa saja bisa kusuap”. Tapi satu kondisi yang tidak bisa ia sangkal adalah kok Tuhan tidak bisa dibeli atau disuap? Dalam konteks injil Lukas, misalnya, bagi Zakheus semestinya Yesus mau datang ke rumahnya dan diberi banyak amplop/stipendium. Tapi kok enggak bisa ya? 
  3. Latarbelakang tempat tinggal (Zakheus adalah orang Yerikho, hunian elite). Ini semacam komplek perumahan yang khusus, misalnya perumahan Dinas Perpajakan, dll. Tanpa bermaksud menyalahkan, tapi lingkungan sungguh bisa memberi sumbangsih bagi seseorang untuk berdosa. Itu Ibarat menjadi orang tulus di tengah warga yang kebanyakan berakal bulus. mungkin saja, tapi sulit 

II. Pertobatan 

Usaha pertobatan berarti “keluar dari Comfort Zone” Karena sesungguhnya tidak menemukan kebahagiaan di sana.
  1. Niat (Zakheus): Ia ingin melihat secara langsung; ingin ketemu langsung dengan Yesus; tapi ada dua rintangan utama: [1] kerumunan orang banyak (Fans-Clubnya Yesus) dan [2] tubuh/badannya pendek. 
  2. Usaha (Zakheus): Ia berlari mendahului orang banyak [melewati rintangan 1.1) dengan memanjat pohon (melewati rintangan 2.2). 
  3. Doa (berkomunikasi dengan Allah [Yesus]): melalui Doa itu, Yesus mengajak kita, disamping niat dan usaha kita, untuk harus berdoa (mengikuti dengan sungguh perayaan liturgi Gereja), sebab melalui doa / usaha menjalin komunikasi dengan Tuhan. 
Allah selalu melihat kita serta akan menyambut kita (Cf. Yesus melihat ke atas, ke arah Zakheus). Ia akan mengajak kita keluar dari situasi tidak bahagia (Cf. Yesus menyuruh Zakheus turun dari atas pohon dan mengundang kita ke PerjamuanNya/RumahNya/Hati kita - Cf. Yesus bertamu ke rumah Zakheus). Di sini Yesus menjadi Tuan Rumah: rumah tidak lagi menjadi rumah Zakheus, tetapi rumah Tuhan, karena sudah diberkati.


III. Buah dari pertobatan ialah Sukacita 

Sukacita yang kita rasaan pertama-tama karena Allah menerima kita apa adanya. Maka, Pertobatan pertama-tama adalah mengundang/membiarkan Allah bertamu ke dalam diri/hati kita (Cf. Zakheus diminta Yesus turun dari atas pohon). Buah dari pertobatan itu adalah :
  1. Menerima Yesus dengan Sukacita. Ini sebagai jawaban atas undangan Allah untuk turut di hidup dalam kehendakNya. Dengan menerima Yesus di rumahnya Zakheus membiarkan dirinya dibimbing dan diarahkan Allah semata. Prinsip tersebut menggiringnya tidak akan jatuh untuk kedua/kesekian kalinya ke dalam dosa. Bahkan godaan dari luar dirinya pun akan mampu ia antisipasi, seperti orang banyak bersungut-sungut dan menyalahkan Yesus yang mau menumpang di rumah orang berdosa. 
  2. Buah dari pertobatan itu adalah tindakan peduli atau berbagi kepada sesama. Pada akhirnya melihat orang lain sebagai tanda nyata dari kehadiran Allah (Cf. Tindakan nyata Zakheus lewat tindakan: memberikan 50% (setengah) dari miliknya kepada orang miskin, bahkan kepada orang yang pernah ia peras akan kukembalikan 4 kali lipat. Demikianlah niat-usaha-tindakan nyata dalam kerangka pertobatan akan berujung pada kebahagiaan dan sukacita. 

Refleksi

Akhirnya melalui pertobatan tadi, Allah menganugerahkan pengampuannya (Cf. absolusi dari Yesus bagi Zakheus: Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham, sebab anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

3 komentar

  1. Johanes Krisnomo11.4.11

    Pertobatan memang berat dan perlu pengorbanan!
    Yang penting usahanya ya Fr.
    Trimakasih atas penyadarannya.
    Met Malem,
    www.johaneskrisnomo.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Artikel di atas tadi bahan kotbahku
    pas ibadat tobat, pak.
    Pak Kris ikutan tadi enggak??
    Trims komentarnya ya...

    BalasHapus
  3. Komentar di http://facebook.com/ciusosc....
    Atie Jbso:
    Emang hrs dipertanggung jwbkan gt fr ? hehehe..
    Btw..mantep td khotbahnya fr jd gak kerasa dingin, kan keujanan tuh,basah kuyup ....

    BalasHapus

Posting Komentar

Komentar via email ke [email protected]






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter