Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Revolusi Mental Jokowi

Beginilah "Revolusi Mental" dimulai oleh Jokowi! Kemarin pkl 10.00 wib saya menyaksikan pertemuan Presiden Terpilih Joko Widodo dan Prabowo Subianto di rumah "sang pesaing" di daerah Kebayoran Baru yang disiarkan secara LIVE di televisi. 

Adalah Jokowi yang mempunyai inisiatif untuk menemui sang jenderal yang kalah dalam perebutan kursi RI 1 dalam pilpres kemarin ini.

Para pengamat banyak yang terkejut, bingung, dan ada juga yang gembira. Jelas sekali inisiatif Jokowi untuk menemu rivalnya itu merupakan peristiwa langka. Lazim terjadi justru presiden yang kalah yang menemui sang pemenang sembari mengucapkan "Selamat atas kemenangannya".

Tetapi Jokowi memang beda. Tak berlebihan bila kepadanya dibebankan harapan akan perubahan oleh masyarakat Indonesia. Ya, Jokowi memang beda. Lewat peristiwa kemarin, juga beberapa peristiwa yang sama pernah ia lakukan kepada Bibit Waluyo (Gubernur sebelum Ganjar), sontak saja mengubah paradigma di atas.

Jokowi tak mau mengulang kelamnya sejarah masa lalu. Ia tak ingin mengikuti langkah Soeharto yang ketika menjadi Pejabat Presiden RI atas mandat dari MPRS tidak pernah sekalipun mengunjungi presiden tersingkir, Soekarno yang kala itu sedang sedang diasingkan oleh musuh-musuh politiknya.

Demikian juga Jokowi tak mau meniru Megawati yang kala menjadi presiden tak menyempatkan diri menemui Abdurahman Wahid alias Gus Dur yang dimakzulkan lewat Poros Tengahnya Amien Rais. Untungny, antara Gus Dur dan Mega sudah terjadi rekonsiliasi, kendati setelah keduanya sudah menjadi mantan presiden.

SBY lebih parah lagi. Setelah memenangkan pilpres 2004 dan 2009 tak pernah mendatangi rumah Megawati yang pernah memberinya jabatan menteri sebelum menjadi presiden. SBY bahkan hanya menunggu Megawati untuk mendatanginya. Tragisnya, hingga hari ini Mega dan SBY masih terlibat dalam "cinta jarak jauh"

Sebenarnya sih Presiden Habibie pernah berinisiatif seperti Jokowi. Sesaat setelah kejatuhan Soeharto ia ingin mengunjugni rumah mantan bosnya. Tetapi naas, Soehartoi malah menolaknya mentah-mentah.

Kini, setelah 16 tahun Reformasi, Jokowi datang dengan "revolusi mental"-nya. Posisinya sebagai presiden terpilih ternyata tak membuat Jokowi jumawa dan meremehkan saingannya sebagaimana dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya.

Jokowi datang dengan kerendahan hatinya. Ia tulus. Minimal ia sendiri yang berinisiatif untuk mengunjungi sahabat lamanya itu. Ia pun datang dengan niat untuk menghormati Prabowo. Ia tahu bahwa sang purnawirawan TNI itu hanya bisa luluh bila dijadikan sebagai teman, dan bukan lawan.

Jokowi pun berhasil mengalahkan keangkuhan, sikap yang begitu keras, sikap tak mau kalah dan sulit mengakui kemenangan dari sang mantan rivalnya itu. Jokowi seperti mempraktikkan filsafat perang Cina kuno, "Cara terbaik untuk mengalahkan musuh adalah dengan bersahabat dengan musuh".

Tentu saja Prabowo bukan musuh Jokowi, kendati oleh perns mereka sering diadu dan digosipkan sedang bermusuhan. Tetapi bahwa keduanya memiliki perbedaan di bidang politik mungkin benar. Musuh terberat Jokowi adalah dirinya sendiri (sing kuat sing menang), demikian juga musuh terberat Prabowo adalah dirinya sendiri (tak mudah menerimak kekalahan atua kekalahan itu menyakitkan).

Nah, pertemuan kemarin pagi seolah menegaskan bahwa keduanya telah mengalahkan musuh masing-masing, dan nyata sekali ketika keduanya bersalaman, berpelukan bahkan saling memberi hormat. Sekali lagi, kita harus berpikir positif, jangan tergoda memelintir apa yang telah dilakukan atau dikatakan oleh keduanya.

Bagi kita, rakyat Indonesia, yang terpenting adalah bahwa gejolak perpolitikan yang tadinya begitu memanas adalah sudah mulai mendigin.

Kita pantas mengapresiasi sikap Prabowo yang mau menerima Jokowi dan juga mau secara terbuka mengakui kemenangan Jokowi. Juga tak kalah pentingnya adalah rasa hormat kita pada Jokowi yang dengan ilmu padinya bersedia mendatangi Prabowo demi mempersatukan masyarakat yang sempat terbelah dalam dua kepentingan.

Begitulah revolusi mental Jokowi bermula. 
Ia tak perlu banyak bertutur apa maksud kedatangannya. 
Tak begitu penting juga apakah Prabowo akan hadir atau tidak saat pelantikan Jokowi.

Sebab jauh lebih penting bagi kita semua adalah ketika Prabowo (yang juga mengajak pendukungnya melakukan hal yang sama) bertekad mendukung kepemimpinan Jokowi-JK demi kemajuan Indonesia.

Salam persatuan Indonesia.
Salam Revolusi Mental !

Bersama

lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter