Ad Unit (Iklan) BIG

Aku Datang Supaya Kamu Mempunyai Hidup

Posting Komentar
Aku Datang Supaya Kamu Mempunyai Hidup
"Tikki mengolu amanta on naburju hian do ibana " (Sepanjang hidupnya, bapa (yang jenazahnya terbujur kaku di hadapan kita) ini termasuk orang yang sangat baik).

Begitulalah hidup berjalan. Kematian kerap dipandang sebagai akhir dari kehidupan manusia.
Tidak heran apabila orang-orang hidup selalu melihat kematian sebagai saat terakhir untuk menyimpulkan "jasa" si orang mati sebelum ia meninggalkan dunia untuk selamanya.

Seperti ungkapan duka di atas, orang hidup selalu menghantar saudara/sahabatnya yang meninggal dengan kalimat-kalimat pujian - di hadapan jenazah yang tak lagi bisa protes, tentunya.

Kalimat di atas pasti tidak 100% benar! Ini bisa jadi bohong!

Bukankah biasanya selalu ada saja kesaksian nyata dari orang-orang yang mengenal si orang mati tadi dan mengatakan bahwa sepanjang hidupnya ia sering menggampar istrinya, suka mabok atau malah suka melakukan kekerasan kepada anak-anaknya.

Nah lu!
Kalau begitu mengapa orang mati kerap dikatain "orang baik" (naburju) oleh semua anggota keluarga atau tamu saat mereka mengucapkan belasungkawa di depan jenazahnya?

Jangan-jangan semua orang pada dasarnya suka membohongi orang mati! :) Buktinya, di setiap upacara pemberkatan jenazah atau saat penguburan menurut agama atau upacara adat pemberangkatan si orang mati, ia  selalu dipuji sebagai orang baik.

Ya, kalau si bapa yang meninggal tadi orang baik. Tentu akan terlihat benar saat sepanjang hidupnya ia orang baik, dan kematiannya pun akan sangat menyedihkan dan mengharukan bagi keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Tapi kalau sebaliknya? Bila si bapat yang mati tadi di sepanjang hidupnya adalah pemabok, perampok, penjahat, penadah, dst....? Mengapa ia malah dikatakan sebagai orang baik di ujung hidupnya?

Bisa Anda bayangkan betapa bergolaknya hati keluarga yang mendengarkan sambutan Anda, atau betapa berkecamuknya suasana hati orang yang menyampaikan ungkapan belasungkawa itu.

* * * * *

Di atas semua itu, "PUJIAN" bagi orang mati, terutama saat upacara penghormatan terakhir untuknya, pertama-tama dialamatkan kepada keluarga yang kehilangan, dan bukan kepada orang mati tersebut.

Hal ini menegaskan beberapa hal:
  • Orang yang meninggal itu adalah orang penting dan hidupnya bernilai bagi keluarga dan hadai taulannya. Maka tak penting bahwa ia baik atau tidak baik sepanjang hidupnya. Ini salah satu kelebihan manusia, yakni ber-"positive thinking"-ria.
  • Kalau memang sepanjang hidupnya ia orang baik, maka bagi keluarga dan sahabat-sahabat yang ditinggalkan selamanya, semoga mampu meneladaninya. Sebaliknya, kalau saja sepanjang hidupnya ia tidak baik, maka "si pemberi sambutan" sangat sungguh sangat menyayangkan mengapa ia sudah keburu mati sebelum 'bertobat'.
  • Alangkah tidak baik menghina orang yang sudah mati di hadapan orang yang masih hidup. Sebab, ia tak lagi bisa protes, apalagi membantah. Bukankah orang tak mati tak lagi butuh hinaan atau pujian?
  • Pada akhirnya, kategori baik atau tidak baik....bernilai atau tidak bernilai... berjasa atau tidak berjasa... bukanlah pertama-tama kategori manusia. Minimal bagi orang beragama, kategori itu tergantung pada Tuhan Yang Maha Kuasa.
  • Lagi, khususnya bagi orang beragama, tujuan hidup yang paling utama adalah menggapai "surga", tempat di mana jiwa berada dalam kebahagiaan yang tak tertadingi. Dan ternyata, bagi orang beragama, seseorang akan masuk surga atau neraka selalu terkait dengan "seberapa baik ia dalam menjalani hidupnya" dan selebihnya tergantung Tuhan.
Di titik inilah memuji seseorang yang sudah mati menjadi salah satu cara orang beragama mengimani bahwa kematian bukanlah ujung dari kehidupan yang sesungguhnya. Untuk itu mereka pun akan berdoa agar arwah si orang mati tadi diterima Tuhan di surga.

Dan apabila si orang mati itu banyak dosa selama hidupnya, mereka berdoa agar Tuhan mengampuninya, sebagaimana mereka juga akan berusaha mengampuni kesalahan si orang mati itu.

*****
Ini berbeda dengan kematian Yesus.Kematiannya tak ditangisi banyak orang, sebagaimana kematian para pesohor atau selebritas yang nyaris disembah sebagai "tuhan" oleh penggemarnya. Tak banyak, bahkan hanya 1 orang saja yang menyempatkan waktu menguburkan jenazah Yesus. Dialah Yusuf Arimatea, seseorang yang tidak tega melihat jenazah kaumnya tak dikuburkan.

Para muridNya, terutama 12 orang yang sejak awal telah dopilihNya pun entah ke mana berlarian. Semua cicing, bahkan CEO Rasul Yesus, yaitu Simon Petrus bahkan terbirit-birit saat seorang wanita mengatakan bahwa "dia salah seorang dari kelompok Yesus".

Ya, jenazah Yesus tak dikuburkan menurut agama dan adat Yahudi yang lengkap (seperti adat nagok dalam budaya Batak). Jasadnya hanya dimasukkan berbungkus kafan kedalam sebuah kuburan berupa gua berbatu yang tak bertuan.

Bagi kita yang hidup di era kini  lantas akan menyimpulkan bahwa hal itu terjadi justru karena Yesus bukan seorang terkenal, pesohor, atau bukan orang yang berpengaruh saat itu. Benar, Yesus memang bukan siapa-siapa bagi masyarakat elite saat itu. ia hanya seorang yang dituduh sebagai "pemberontak" dan "pengacau keamanan" rakyat oleh alim-ulama dan pejabat pemerintah.

Buktinya, Yesus sendiri hanya dicintai segelintir orang miskin dan tersingkir, kaum tak berpendidikan, dan orang-orang yang tak masuk dalam kategori masyarakat yang tidak sanggup membayar pajak kepada negara.

Lantas mengapa kematian Yesus selalu diperingati oleh para pengikutNya di kemudian hari, hingga hari ini? Apakah ini hanya sekedar "bayar utang" atau sebagai pengganti "30 keping emas" yang telah dibayar imam-imam kepada Yudas Iskariot sebagai pengganti nyawa Yesus?

Entahlah. Tak banyak orang Kristen yang begitu yakin dengan apa yang mereka lakukan. Umat Kristen hanya mendengar, mengetahui, bahkan mengimani bahwa Yesus mati demi meyelamatkan manusia dari dosa-dosa, yang bahkan dosa setelah penghianatan Adam.

* * * * *
Akhirnya, kita kerap menghargai hidup di saat kematian menjemput orang-orang di sekitar kita. Di saat orang tercinta mati, kita terisak karena kehilangannya.

Sayangnya, di saat orang-orang tercinta itu masih hidup kita tak pernah menghargai kehidupan mereka. Kiranya benarlah apa yang dikatakan Yesus kepada para pengikutNya,
"AKU DATANG SUPAYA KAMU MEM[PUNYAI HIDUP!" ..... "AKU DATANG BUKAN UNTUK ORANG MATI, MELAINKAN UNTUK ORANG HIDUP."
Ini penting, agar kita lebih menghargai orang yang masih hidup daripada sekedar melayangkan sejuta pujian untuk orang mati.

Bagi sahabat-sahabat pengikut Yesus. Selamat merenungkan makna wafat dan kebangkitan Yesus.Jangan tangisi KEMATIANNYA,
tetapi syukuri dan cintailah KEHADIRANNYA dalam hidupmu.Amin.


lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter