iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Masyarakat Stereotip

Masyarakat Stereotip

STEREOTYPE [ster′ē ə tīp′, stir′-]: (n) is a well-known idea or image of a person or idea that is held by a number of people; (v) to attach an idea or image to a person who belong to a particular group.

Mengacu pada pengertian di atas, stereotip adalah kombinasi dari ciri-ciri yang paling sering diterapkan oleh suatu kelompok tehadap kelompok lain, atau oleh seseorang kepada orang lain atau generalisasi kesan yang kita miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis atau sifat kepribadian (Soekanto, 1993 & Matsumoto, 1996).

Contoh stereotip berkenaan dengan asal etnik:
  1. Stereotip yang melekat pada etnis jawa, seperti lamban dan penurut. 
  2. Stereotip etnis Batak adalah keras kepala dan maunya menang sendiri. 
  3. Stereotip orang Minang adalah pintar berdagang. 
  4. Stereotip etnis Cina adalah pelit dan pekerja keras.
Stereotip berfungsi menggambarkan realitas antar kelompok, mendefinisikan kelompok dalam kontras dengan yang lain, membentuk imej kelompok lain (dan kelompok sendiri) yang menerangkan, merasionalisasi, dan menjustifikasi hubungan antar kelompok dan perilaku orang pada masa lalu, sekarang, dan akan datang di dalam hubungan itu (Bourhis, Turner, & Gagnon, 1997).
  • Melalui stereotip kita bertindak menurut apa yang sekiranya sesuai terhadap kelompok lain. Misalnya etnis jawa memiliki stereotip lemah lembut dan kurang suka berterus terang, maka kita akan bertindak berdasarkan stereotip itu dengan bersikap selembut-lembutnya dan berusaha untuk tidak mempercayai begitu saja apa yang diucapkan seorang etnis jawa kepada kita. 
  • Sebagai sebuah generalisasi kesan, stereotip kadang-kadang tepat dan kadang-kadang tidak.  Misalnya stereotip etnis jawa yang tidak suka berterus terang memiliki kebenaran cukup tinggi karena umumnya etnis jawa memang kurang suka berterus terang. Namun tentu saja terdapat pengecualian-pengecualian karena banyak juga etnis jawa yang suka berterus terang.
  • Stereotip dapat diwariskan dari generasi ke generasi melalui bahasa verbal tanpa pernah adanya kontak dengan tujuan/objek stereotip (Brisslin,1993). Misalnya saja stereotip terhadap etnis Cina mungkin telah dimiliki oleh seorang etnis Minang, meskipun ia tidak pernah bertemu sekalipun dengan etnis Cina. 
Di dalam politik pun, kebiasaan memberi stereotip dari anggota masyarakat yang satu kepada anggota masyarakat lainnya tampak berjalan mulus. Kebiasaan ini bahkan telah melahirkan tindakan "diskriminasi"

Padahal menempelkan gambaran atau gagasan yang negatif kepada orang lain sama saja dengan berprasangka (buruk) terhadap mereka. Ini sangat subyektif dan hampir pasti tidak tepat. Saya akan coba menjelaskannya dengan contoh silogisme berikut ini:
  • Premis Umum: Gubernur DKI harus dijabat oleh seorang yang berasal dari suku X dan agama Y.
  • Premis Khusus: Z berasal dari etnis dan agama minoritas.
  • Simpulan: Z tak mungkin menjadi gubernur di DKI karena ia berasal dari etnis dan agama minoritas.
Sungguh sangat kita sayangkan di saat pola pikir, pola ucap dan pola laku kebanyakan masyarakat kita masih berada di tahap ini. Padahal, seturut perkembangan teknologi komunikasi, kebiasaaan berpikir tak logis di atas sudah semestinya kita singkirkan.

Entah sampai kapan kita fokus pada kualitas (nilai intrinsik) dan berpikir ulang tentang  mayor-minor (kuantitas). Sebab dengan membiarkan masyarakat larut dalam sekat-sekat yang dibangun oleh aparatur negara, maka kemajuan bangsa tersebut akan melambat, bahkan akan terhambat.

Bukan melulu karena pancasila, UUD 1945 atau semboyan negara Bhineka Tunggal Ika telah menegaskan pentingnya persatuan dan kesatuan Indonesia. Namun juga seluruh elemen masyarakat harus menghormati perbedaan kualitas personal yang kita miliki.

Mari kita belajar dari cara penataan negara sejak kemerdekaan 17 Agustus 1945. Di awal kemerdekaan hingga munculnya Orba, kendati masih tertatih, bangsa ini tetap setia pada persatuan dan kesatuan Indonesia.

Di masa Orde Baru, dengan sengaja dihembuskan isu pribumi versus non-pribumi. Tragisnya, sekat-sekat yang diciptakan Soeharto cs itu tak saja tentang SARA, tetapi juga antara si "penjilat" versus si "pemberontak".

Era Reformasi yang awalnya dipandang sebagai gerbang perubahan juga jatuh ke lobang yang sama, bahkan ke lobang yang jauh lebih dalam. Isu SARA kembali marak, terutama dihembuskan oleh para pemilik mimbar kepada para pendengarnya.

Tanpa rasa terimakasih atas jasa para pendiri bangsa ini, mereka dengan ganas mendiskreditkan produk kemerdekaan, seperti kebebasan individu, dasar negara Pancasila, UUD 1945 dan berbagai peraturan baku lainnya.

Dengan mengatasnamakan dirinya sebagi representasi dari Tuhan yang mahaesa, kelompok sepratis berjubah ini lantas menyebut seluruh tata aturan bernegara adalah "berhala" dan harus diganti dengan peraturan yang diberikan oleh sponsor mereka.

*****

Tindakan steretip bernada negatif kepada kelompok tertentu sembari mengagungkan diri dan kelompoknya adalah cara-cara terbaru yang dilakukan oleh para pengacau yang dipelihara oleh negara ini demi memecah usaha masyarakat untuk tetap menjalin pesatuan dan kesatuan.

Musuh bangsa ini bukanlah PBB, IMP, World Bank, USA dan negara-negara Barat! Musuh bangsa ini adalah dirinya sendiri, yakni masyararakat yang stereotip, yang penuh curiga dan syak wasangka terhadap hal baru dan berbeda dari biasanya.

Kecenderungan psikologis inilah yang pada akhirnya menggiring masyarakat kita berpikiran sempit dan berlaku bak orang sedang kejepit.

Di ruang-ruang publik, entah media-media yang tersedia, para calon pemimpin berteriak manis dan tampak tegas saat mengatakan "No money politic" atau "saya akan membantu orang miskin", tetapi serentak mereka sedang melakukan politik transaksional demi kursi kekuasaan yang sudah di depan mata mereka.

Hingga kini, sikap prasangka, stereotipe dan diskriminasi masih menjadi momok yang mengganjal kemajuan bangsa kita. Teriakan Sukarno, janji Suharto dan Habibie, ajakan Gus Dur dan Megawati, ajakan syahdunya SBY hingga keberanian Jokowi untuk memajukan negara ini terbentur oleh kerdilnya jiwa kita dan besarnya prasangka, stereotip dan diskriminasi di tengah masyarakat kita.

Merujuk pada pendapat filsuf sosial, Erich Fromm, masyarakat kita harus disembuhkan dari penyakit masyarakat yang 'doyan' menciptakan permusuhan, kecurigaan, dan ketidaksalingpercayaan antar-anggota masyarakat. Penyakit ini bersumber dari sikap penuh prasangka yang pada akhirnya akan menumbuhkan kecurigaan, ketidakpercayaan, dan permusuhan.

Kita harus menjadi masyarakat yang sehat, yakni masyarakat yang membiarkan anggota-anggotanya mengembangkan cinta satu sama lain. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat mampu bekerja, mampu belajar dan mampu bemain.

Akhirnya, hanya dengan cara menyembuhkan dirinya sendirilah masyarakat kita menjadi masyarakat yang sehat. Apabila hal ini dilakukan niscaya bangsa kita menjadi bangsa yang besar, hebat dan berkelebat. Semoga.