Entri yang Diunggulkan

Simulacra dan Realitas Semu

Jean Baudrillard Bicara tentang komunikasi, tepatnya filsafat komunikasi tak bisa dilepaskan dari filsup bernama Jean Baudrillard.  Filsafat komunikasi yang dimaksud ialah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, metodologis, sistematis, analitis kritis, dan holistis teori dari pro…

Jalan Terjal Memilih Ahok-Djarot

Memilih #AhokDjarot itu hal mudah bagi warga DKI Jakarta, apalagi keduanya tak lagi perlu mengumbar janji, termasuk memindahkan Jakarta dari daratan ke lautan hingga menjadi #KotaApung seperti dunia dalam khayalan #AHYSylvi.

Tetapi sungguh tak mudah bagi warga DKI Jakarta untuk berjalan bersama, mengikuti langkah, bahkan merasakan kerikil tajam yang harus dipijak #AhokDjarot dalam menapaki #PilkadaDKI2017 mendatang.

Dua kata sangat tenar membumbui perjalanan #AhokDjarot, terutama Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama sendiri, yakni "penista" dan koruptor.

Kata pertama, "penista" ini akrab diucapkan oleh para lawan politiknya yang memang sudah berafiliasi dengan kontestan pilgub lain. Kata "penista" yang ditambah kata benda "agama" atau "islam" digunakan untuk menghadang Ahok secara sistematik agar ia tak ikutan kontestasi #PilkadaDKI2017.

Bukan apa-apa, lawan-lawan politiknya memang sadar diri. Ibarat sepakbola, Persija FC bukanlah lawan tanding sepadan untuk Real Madrid yang telah merajai Eropa dan dunia. Artinya lagi, bertarung melawan Ahok sama saja dengan membuang energi dan uang.

Sementara kata kedua, "koruptor" adalah kata yang tak disukai Ahok. Ia benci para koruptor: siapa pun otomatis akan menjadi lawannya bila mereka melakukan korupsi.

Jangan coba-coba berkilah seperti adiknya Muhammad Taufik (Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Gerindra), Muhammad Sanusi yang tertangkap tangan menerima suap RP 2 milyar untuk kasus Reklamasi hingga dituntut pidana 10 tahun penjara oleh JPU di pengadilan.

Ahok akan membongkar habis si pelaku korupsi ini, termasuk anggota legislatif seperti Sanusi. Ahok bahkan sangat temperamental dalam membongkar kasus ini. Tak heran bila anggota legislatif alias DPRD-DKI kalang kabut dibuatnya.

Itu sebabnya, ketika Ahok "dikondisikan" sebagai terhukum dengan tuduhan "penistaan agama" oleh FPI, MUI and the gang, beberapa anggota legislatif seperti ketiban durian runtuh.

Plt. Gubernur DKI pun langsung mereka rangkul, hingga berbagai kebijakan Ahok mulai mereka preteli. Tak hanya itu, lawan-lawan politiknya yang memang doyan korupsi dan selalu lapar akan pesangon pemerintah untuk ormas mereka begitu percaya diri bahwa #AhokDjarot akan batal mencalonkan diri.

Harapan ini sejalan konspirasi yang telah mereka bangun, yakni bekerjasama sejak musim kampanye dengan cawagub yang lemah dan karib dengan korupsi, dan bila sang jagoan menang, maka mereka akan nafsu mereka pada fulus akan mereka dapatkan dengan jalan mulus.

Memang begitulah sifat manusia yang hidup dalam selimut akal bulusnya. Mereka selalu yakin dengan filsofi para pencuri ini: "Untuk apa melakukan hal yang benar disaat berbuat jahat atas nama agama sah-saja di negeri ini?"

Ah, dasar barisan para koruptor. Mereka licik memainkan isu penistaan agama kepada Ahok disaat mereka sendiri justru menggunakan agama untuk memuluskan kejahatannya.

Kita doakan #AhokDajarot menang, agar semua niat busuk lawan-lawan politik Ahok sirna bersama bau busuk yang bersumber dari mulut mereka yang selalu menduh dan memfitnah para pemimpin yang loyal pada Konstitusi dan selalu siaga melayani warganya.

#Salam2Jari dan semoga #YangLainGigitJari.


Lusius Sinurat
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar






DONASI VIA PAYPAL
Bantu berikan donasi jika Anda merasa artikel di Blog ini sungguh bermanfaat. Donasi akan digunakan untuk memperpanjang domain lusius-sinurat.com. Terima kasih.

Subscribe Our Newsletter