Ad Unit (Iklan) BIG

Masyarakat Konsumen

Posting Komentar
Masyarakat Konsumen
Masyarakat konsumsi adalah masyarakat yang dibentuk dan dihidupi oleh konsumsi, yang menjadikan konsumsi sebagai pusat aktivitas kehidupan dengan hasrat selalu dan selalu mengkonsumsi.

Dalam masyarakat konsumsi pandangan bahwa barang (komoditi) tidak lebih dari sekedar kebutuhan yang memiliki nilai tukar dan nilai guna kini pelan-pelan mulai ditinggalkan dan diganti dari komoditas menjadi tanda dalam pengertian Saussurian.

Dengan demikian konsumsi, tidak dapat dipahami sebagai konsumsi nilai guna, tetapi terutama sebagai konsumsi tanda. Dalam masyarakat konsumen hubungan menusia ditransformasikan dalam hubungan objek yang dikontrol oleh kode.


Objek adalah Tanda


Perbedaan status dimaknai sebagai perbedaan konsumsi tanda, sehingga kekayaan diukur dari bayaknya tanda yang dikonsumsi. Mengkonsumsi objek tertentu menandakan kita berbeda atau dianggap sama dengan kelompok sosial tertentu, jadi kode mengambil fungsi kontrol terhadap individu.

Menurut pandangan Baudrillard, proses konsumsi dapat diaanalisis dalam perspektif dua aspek yang mendasar yaitu: pertama, sebagai proses signifikansi dan komunikasi, yang didasarkan pada peraturan (kode) di mana praktik-praktik konsumsi masuk dan mengambil maknanya.

Di sini konsumsi merupakan sistem pertukaran, dan sepadan dengan bahasa. Kedua, sebagai proses klasifiaksi dan diferensiasi sosial, di mana kali ini objek-objek/tanda-tanda ditahbiskan bukan hanya sebagai perbedaan yang signifikan dalam satu kode tetapi sebagai nilai yang sesuai (aturan) dalam sebuah hierarki.

Di sini konsumsi dapat menjadi objek pembahasan strategis yang menentukan kekuatan, khususnya dalam distribusi nilai yang sesuai aturan (melebihi hubungannya dengan pertanda sosial lainnya: pengetahuan, kekuasaan, budaya, dan lain-lain) (Baudrillard, Masyarakat Konsumsi, 2004).


Simulacra

Di tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang dasyat realitas telah hilang dan manguap. Kini kita hidup di zaman simulasi, di mana realitas tidak hanya diceritakan, direpresentasikan, dan disebarluaskan, tetapi kini dapat direkayasa, dibuat dan disimulasi.

Realitas buatan ini bercampur-baur, silang sengkarut menandakan datangnya era kebudayaan postmodern. Simulasi mengaburkan dan mengikis perbedaan antara yang nyata dengan yang imajiner, yang benar dengan yang palsu. Proses simulasi inilah yang mendorong lahirnya term ‘hiperrealitas’, di mana tidak ada lagi yang lebih realistis sebab yang nyata tidak lagi menjadi rujukan.

Baudrillard memandang era simulasi dan hiperrealitas sebagai bagian dari rangkaian fase citraan yang berturut-turut:
  1. Pencitraan adalah refleksi dasar realitas, 
  2. Pencitraan menutupi dan menyelewengkan dasar realitas, 
  3. Pencitraan menutupi ketidakadaan realitas, dan 
  4. Pencitraan melahirkan ketidakberhubungan pada berbagai realitas apapun; ia adalah kemurnian simulacrum itu sendiri (Ritzer, 2003).

Kebudayaan Postmodern

Konsern utama Baudrillad dalam kajian kebudayaan postmodern didasarkan pada beberapa asumsi hubungan antara manusia dengan media, yang sebelumnya pertama-tama dibicarakan oleh Marshall McLuhan.

Baudrillard mengatakan media massa menyimbolkan zaman baru di mana bentuk produksi dan konsumsi lama telah memberi jalan bagi semesta komunikasi yang baru (Madan Sarup, 2003). Membicarakan ‘media’ berarti melibatkan kata ‘massa’, dan memang media massa memiliki fungsi penting dalam perjalanan kebudayaan postmodern. 

Media telah menginvasi ruang publik dan privat, dan mengaburkan batas-batasnya, dan pada akhirnya media menjadi ukuran baru moral masyarakat mengantikan institusi tradisional semisal agama. Fungsi media dalam kerangka kapitalisme lanjut adalah membentuk institusi-institusi baru masyarakat yang disebut budaya massa dan budaya populer.

Tujuan utama pembentukan budaya massa tentu saja untuk memperoleh keuntungan yang besar melalui penciptaan produk-produk budaya massa untuk dikonsumsi secara massal pula. Secara umum kajian Baudrillard membentuk satu kesatuan yang utuh dan sulit dipisahkan.

Konsep-konsep dasar yang dielaborasinya bertaut, mulai dari masalah konsumsi, simulasi, tanda, hiperrealitas, sampai objek-objek kajian yang biasanya tidak diperhitungkan dalam kajian sosiologis seperti berahi, tubuh, fashion, televisi, film, seni dan iklan. Dengan demikian sebenarnya Baudrillard telah memulai babakan baru dalam studi sosiologi dewasa ini. Baca kembali dari awal!


Selengkapnya: 1 < 2 < 3 < 4 < < 6Simulacra dan Realitas Semu

__________

DAFTAR PUSTAKA
  • Aziz, Imam, 2001, Galaksi Simulacra, LkiS: Yogyakarta
  • Gunawan, Arief, 2006, Membaca Baudrillard - http://ariefgunawan.blogspot.com/2006/05/membaca-baudrillard.html
  • Utoyo, Bambang, 2001, Perkembangan pemikiran Jean Baudrillard: dari realitas ke simulakrum, Perpustakaan Universitas Indonesia: Jakarta
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter