Ad Unit (Iklan) BIG

Tak Sekedar Biji Sesawi - 6

Posting Komentar
tak sekedar biji sesawi
IMAN BERTUMBUH OLEH KETAATAN

Kita sekarang harus mencari tahu bagaimana iman dapat bertumbuh dalam kehidupan orang percaya. Kita menuju (atau tumbuh) dari "iman kepada iman" dan "kemuliaan kepada kemuliaan".

Sebuah cara rohani untuk mengingatnya adalah : anda akan merasakan kemuliaan Tuhan hanya sebatas proporsi pertumbuhan iman yang ada dalam kehidupan anda. 

Iman yang berkembang berjalan seiring dengan meningkatnya kemuliaan Allah yang ada dalam kehidupan dan pelayanan Anda.


1. Potensi dalam sebuah biji

Prinsip dari pertumbuhan iman dapat digambarkan dalam cerita kubur dari Raja Tut. Raja Tut (singkatan dari Raja Tutank Hamon) adalah Firaun Mesir terkenal yang dikubur sekitar tahun 1351 sebelum Masehi, dalam kubur piramide yang sangat rumit dan mempunyai banyak liku-liku.

Kubur yang belum pernah terjamah itu ditemukan secara lengkap pada tahun 1922 oleh seorang ahli purbakala dari Inggris. Di dalamnya, di antara harta karun, ditemukan madu, gandum dan jagung.

Karena keingintahuan akan apa yang akan terjadi setelah 3.279 tahun, maka arkeologis tersebut menanam gandum dan jagung pada tanah yang subur dekat sungai Nil. Di sana tanaman-tanaman tersebut akan mendapat kelembaban dan makan yang cukup dari tanah. 

Dalam jangka waktu pertumbuhan yang normal, panen gandum dan jagung itu tumbuh - panen dari biji yang telah berusia lebih dari 3000 tahun. Meskipun tanaman-tanaman tersebut telah berada dalam keadaan mati selama tiga ribu lima ratus tahun, dalam biji itu masih ada kekuatan untuk menghasilkan dan menghasilkan lagi panen yang nyata. Apa yang diperlukan hanyalah lingkungan yang layak untuk bertumbuh.


2. Hal yang penting untuk pertumbuhan

Hukum alam tentang pertumbuhan mengajar kita hal-hal rohani. Biji gandum yang jatuh dalam lingkungan yang salah tidak akan pernah bertumbuh. Namun, dengan memberikan kondisi-kondisi yang benar, biji itu bukan hanya tumbuh - tetapi melalui penanaman kembali dari suatu panen yang sukses, lama kelamaan akan menghasilkan ribuan biji-biji gandum.

Potensi yang sama hebatnya ini terdapat di dalam biji iman yang sudah Allah berikan pada setiap orang. Apa yang kita lakukan dengan biji itu menentukan apakah iman itu tumbuh atau tetap merupakan satu biji saja. Agar dapat bertumbuh, biji haruslah mendapat makanan/tanah yang subur, air dan cahaya matahari. Ini adalah tiga elemen yang amat dibutuhkan untuk pertumbuhan alami dan pertumbuhan rohani.

Secara metafora, supaya tumbuh, biji iman harus diberi makan dari dalam tanah Firman Allah (bukan secara hurafiah tapi oleh ilham Roh/Efesus 1:17 atas Firman), diairi dengan ketaatan akan Firman dan bermandikan sinar matahari dari kasih Allah yang bernaung dalam hati-hati kita oleh Roh Kudus (Rm 5:5; Gal 5:6).

Mendengar Firman Allah. Saat kita berkata-kata mengenai Firman Allah sebagai tanah di mana biji iman itu tumbuh, kita tidak hanya menekankan pada Alkitab saja seperti Roma 10:17 mengatakan : "jadi iman timbul dari pendengaran ... oleh Firman (dalam bahasa Yunani = RHEMA) Kristus". 

Pada kitab nabi-nabi dalam Perjanjian Lama, sering kita temukan kata-kata seperti : "Firman Tuhan datang kepada ..." nabi Yermia atau kepada Iman Yehezkiel atau kepada Hosea dan sebagainya, ini berarti bahwa suara Allah/Firman dikomunikasikan dari sorga kepada manusia di bumi seperti yang ditulis dalam Roma 10:17.

Dengan cara yang sama, kita dapat "mencari" Allah dan menerima tanda-tandaNya yang terkadang dapat didengar dan dilihat!


Selengkapnya:  1  | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter