Ad Unit (Iklan) BIG

Tak Sekedar Biji Sesawi - 7

Posting Komentar
 Tak Sekedar Biji Sesawi
Berpuasa Menajamkan Pendengaran Anda.

Salah satu cara yang dapat menajamkan kemampuan kita menerima tanda-tanda Allah adalah melalui puasa. Ini seperti menjernihkan suara dalam sebuah radio. 

Saat Yesus mengajarkan murid-muridNya tentang kebutuhan mereka untuk menumbuhkan iman, Ia menjelaskan (Mat 17:21) bahwa doa dan puasa seringkali adalah kunci untuk masuk dalam iman yang lebih besar. 

Berpuasa adalah suatu pertolongan/bantuan untuk meningkatkan iman bila motivasi kita ingin mendekat kepada Allah sehingga kita dapat mendengar Firman Allah pada kita dengan lebih baik.

Berpuasa Dapat Membahayakan

Konsep yang mengatakan bahwa dengan berpuasa seseorang dapat membalik tangan Allah dan memaksa Dia untuk mengerjakan sesuatu yang tidak ingin Ia lakukan adalah suatu kesalahan fatal.

Jika berpuasa adalah untuk keinginan sendiri, dengan motivasi yang meragukan, anda seperti membuka diri anda pada roh-roh lain yang tidak benar. Ingat bahwa saat Yesus berpuasa 40 hari, Ia berjumpa dengan iblis. Jika anda berpuasa dan berdoa untuk suatu kuasa sehingga anda menjadi terkenal atau alasan-alasan lain yang keliru, anda berada pada resiko tertipu setan. 

 Yesus berada di padang gurun berpuasa selama 40 hari bukan dengan kemauanNya. Ini bukan karena Ia memutuskan untuk memaksa BapaNya agar memberikan kuasa supranatural untuk menunjukkan pada dunia dinamika-dinamikaNya. 

Yesus berada di sana karena Ia dipimpin secara jelas oleh Roh untuk pergi ke padang gurun dan berpuasa, Markus 1:13 mengatakan bahwa "malaikat-malaikat melayani Dia". Anda membutuhkan pelayanan malaikat-malaikat jika berpuasa selama 40 hari.

Saya tahu ada 3 orang meninggal akibat berpuasa selama 40 hari. Tidak ada keraguan lagi bahwa mereka tidak dipimpin oleh Roh Allah, tetapi semata-mata oleh keinginan manusia itu sendiri.

Tidak ada puasa untuk waktu yang lama dalam Alkitab yang didorong oleh keinginan manusia tetapi selalu oleh jaminan Ilahi. Contoh, Musa (Kel 34:28) dan Elisa (1 Raj 19:8) keduanya berpuasa selama 40 hari dan 40 malam tetapi dimotivasi oleh Tuhan bukan oleh mereka sendiri.

Ada beberapa yang bertahan selamat dalam 40 hari berpuasa tapi tidak mempunyai iman lagi pada akhir puasa itu dibandingkan ketika mereka memulainya. Di lain pihak saya juga mengetahui orang-orang yang dipimpin oleh Tuhan dalam menjalani puasa 40 hari. Karena mereka menanggapi motivasi/dorongan Ilahi ini maka mereka bertekun. Mereka bertemu dengan Allah dan masuk dalam pelayanan Roh Kudus yang sejati.

Bahaya yang sangat besar dalam puasa 40 hari, jika puasa itu dimotivasi oleh keinginan sendiri dan pemusatan terhadap diri sendiri adalah dapat menghasilkan kontak hubungan dengan setan. Keinginan akan kekuatan dan urapan untuk kemajuan diri sendiri, membuat orang itu akan membuka dirinya sendiri terhadap kontak dengan segala macam roh dan dilanjutkan pada kuasa setan.

Roh manusia lebih mudah mencari komunikasi dengan Roh Kudus dalam berpuasa. Tapi anda juga sama mudah dan sensitifnya terhadap roh-roh yang tidak benar seperti terhadap Roh Kudus. Namun anda berada pada tempat yang benar jika motivasi puasa anda adalah untuk mendekat pada Allah.

Jika dipimpin oleh Roh, maka seringkali kita dapat merapat kepada Allah dalam puasa-puasa yang singkat. Dengan berdoa dan menunggu Allah selama satu atau dua atau tiga minggu dapat membantu. Berpantang dalam makanan untuk merasakan hadiratNya tanpa gangguan juga membuka sarana untuk berkomunikasi denganNya.


Berpuasa Membutuhkan Motivasi yang Benar

Karena itu motivasi berpuasa harus benar-benar ditimbang. Beberapa orang hanya mengejar kuasa dan pengurapan sebelum waktunya, dan mereka hancur sendiri karenanya. Jalan menuju pelayanan mujizat dapat saja merusak seseorang karena dengan kehendak manusianya mengejar dan memaksa (dengan keinginan sendiri) untuk memperoleh kuasa. 

Tetapi mereka tidak mempunyai persiapan dalam hati mereka bagaimana menghadapi dan menanganinya setelah kuasa itu datang. Sering berkelanjutan akan menghancurkan mereka sendiri. Urapan merupakan hal yang sangat membahayakan.

Jika kita mempunyai kekuatan yang tidak terbatas, kita akan melakukan banyak hal yang tidak diinginkan Allah, melanggar prinsip-prinsip keIlahian dan melakukan perkara-perkara bodoh yang dapat menghancurkan kita dan pekerjaan Allah yang sedang dalam proses. 

Setiap kali Allah berbicara tentang sesuatu, maka pastilah hal itu merupakan pernyataan kehendakNya. Saat kita mengetahui apa yang Ia ingin kita lakukan, iman akan datang dari mendengar Firman Allah. Ini adalah iman yang benar dan aman.


Selengkapnya:  1  | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11
lusius-sinurat
Berbagai ide dan gagasan yang sempat terekam, dituliskan dan dibagikan kedalam tema-tema, seperti Filsafat, Teologi, Budaya, Politik, Pendidikan, dll oleh Lusius Sinurat. Kritik dan Saran silahkan kirimkan via email [email protected].

Related Posts

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter