iCnHAQF62br424F1oK8RwyEkyucx21kDoKaV2DdH

Politik dan Kesadaran

Seorang (calon) plitisi hendaknya memahami kesadaran. Kesadaran (berasal dari kata dasar sadar) tak mudah didefinisikan.

Di satu sisi kesadaran merupakan sebuah homonim karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda; namun di sisi lain kesadaran juga memiliki arti dalam kelas nomina (kata benda) yang menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan. Di titik ini, kesadaran (n) dapat kita mengerti sebagai keinsafan, keadaan mengerti. Contoh, "Kesadaran akan harga dirinya timbul karena ia diperlakukan secara tidak adil."

Namun lebih daripada itu, kesadaran yang saya maksuda adalah "hal yang dirasakan atau dialami oleh seseorang".

Memang sulit mendefinisikan makna dan bentuk kesadaran. Itu karena kesadaran bukanlah sebuah rumusan konseptual yang bisa didiskusikan dengan bahasa dan konsep, melainkan sesuatu yang dialami secara langsung sebagai ada, tanpa penjelasan apapun.

Demikian juga seorang politisi harus memiliki kesadaran. Ia harus menyadari perubahan perilaku, dan perubahan mendasar dalam dirinya setelah menjadi politisi. Hanya dengan carai seperti itulah ia menjadi politisi yang tangguh dan tahan uji.

Sebaliknya, politisi yang tidak mengolah kesadarannya bukanlah politisi tangguh, melainkan politisi yang suka 'baper', menyalahkan orang lain, ingin memperoleh kekuasaan secara instan, hingga tanpa sadar telah dimanfaakan orang lain.

Seorang politis yang memiliki kesadaran sebagai bagian dari bangsa dan negara ini secara otomatis akan membaktikan hidupnya bagi keadilan dan kemakmuran bersama. Di titik inilah seorang politisi minimal harus memiliki ksadaran berbangsa dan bernegara.

Seorang politisi harus sadar bahwa ia berada di tempat yang memiliki bahasa, agama, ideologi, budaya, dan sejarah yang sama dengannya dan mempunyai aturan-aturan baik dalam bidang politik, militer, ekonomi, sosial maupun budaya yang diatur oleh Negara.


Baca juga: 


Lusius Sinurat

Posting Komentar

Saat menuliskan komentar, tetaplah menggunakan bahasa yang baik, sopan dan sebisa mungkin sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Please jangan mencantumkan link / tautan ya. Terimakasih.